Lebih dari Cemas

Lebih dari Cemas

Kau tahu apa yang lebih menyiksa dari khawatir dan rasa cemas? Ya, cemburu. Ia menguras hati. Mencampur aduk emosi. Cemburu dengan cara seperti ini adalah sesuatu yang tak bisa kucegah, tak bisa kuenyahkan, memasungku dalam ketidakberdayaan.

Sembari mendengarkan sambungan telfonmu di ujung sana, kumenatap langit malam dengan canggung. Mendengar ceritamu, suaramu, tangisanmu, nafasku mendadak berat. Sungguh, menghirup udara ini membuat dadaku sesak.

“Oh, belum bisa melupakan dia yaaa?” kataku.
“Tak apa! Aku takkan cemburu” sambungku. Padahal kupu-kupu sudah menari sedari tadi dalam perutku.

Kutahu dia yang selalu kau tulis dalam catatan, dalam diary, dalam puisi. Tapi satu yang perlu kamu tahu, langkah kita hingga titik ini yang menulis adalah Allah. Dia sudah menulis di lauhul mahfuzh.

Apakah menikmati rasa sakit bagimu adalah kenikmatan? Apakah menikah dengan kenangan membuatmu bahagia? Tidak bisakah kau menutup lembar itu dan lihat aku di masa depanmu? Tidak bisakah?

Terima kasih untuk resah. Untuk cemas. Untuk cemburu. Untuk gelisah.

Sesungguhnya ada seribu alasan bagiku untuk marah kepadamu. Ada ratusan alasan bagiku untuk cemburu padamu. Dan ada hektaran cemas yang selalu mengusik waktuku. Tapi, aku tak sanggup lakukan itu karena kau adalah yang kusemogakan di dalam doaku. Aku tak ingin membuat semua makin kacau, karena yang terbaik saat ini adalah menenangkanmu. Karena mewujudkanmu adalah ibadah yang tengah kusempurnakan. Jadi, aku takkan mungkin melakukan sesuatu yang berpotensi membuat ibadah ini jadi batal.

Kau adalah ketidakberdayaanku. Kau adalah terang dalam setiap gelapku. Kau adalah tenang dalam setiap khawatirku. Kau adalah jawaban dari doa-doaku. Semoga kita bisa melewati ujian ini. Dengan izin-Nya, dengan ridho-Nya. Aamiin…

Way Kanan, 22 desember 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shared on wplocker.com