Overthink Man

Overthink Man

Aroma dingin mulai melekati malam, terasa menelusup dari daun jendela menusuk tulang. Pukul 00.01 dini hari. Di atas sana, rembulan sipit dan bintang yang berkerlip seumpama mata malaikat yang mengintip penduduk bumi.

Di meja kerja dengan sequence video yang belum juga selesai diedit, aku ditemani secangkir teh yang telah dingin. Sejujurnya bukan karena aku penyuka teh, hanya saja, kopi terlalu pahit untuk diminum disaat seperti ini.

Entah apa yang kusesali. Entah apa yang membuat resah hati. Apakah rasa kantuk yang kulawan tanpa kafein. Adobe Premiere Pro yang not responding. Footage yang salah rekam lantaran tombol record yang dipencet terlambat. Rinduku pada 2 sahabat introvert. Atau kamu?

Berulang mulutku menguap. Tubuhku sungguh ingin terlelap, tapi tidak dengan mataku. Pun perasaan yang tak tenang ini menolak istirahat. Ia menjajah, sekaligus membelenggu.

Hey Overthink, cukup! Aku menyerah, bisakah kita berdamai? Karena kau adalah alasan kantuk pagiku, juga insomnia malamku. Kau yang mengusik kala ku terjaga, dan yang membuat sulit mengerjap mata.

Perlahan kugelar sajadah di waktu-waktu berserah. Kuangkat takbir, teriring cemas di hati yang membanjir. Mentadaburi hafalan ayat-ayat pendek yang tak banyak kuhafal. Lemahku dihadap-Mu.

Seusai salam, sepuluh jemariku menengadah dan menggigil. Air mata mengalir. Teriring resah di relung sanubari yang tak kutahu entah resah karena apa dan siapa. Apakah air mata pendosa, apakah air mata takwa? Entahlah, aku tak mengerti. Yang jelas perasaanku bergemuruh. Kacau.

Di atas hamparan shaf sajadah itu, kumeraung meminta ketenangan pada Rabbi.

Cemas ini kan kujadikan saksi, ketika bersimpuh sepuluh jemari, tubuh yang membesi, dan linangan air mata yang enggan berhenti. Ternyata hanya Dia yang mampu mengerti.

Way Kanan, 18 September 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shared on wplocker.com