Posts Tagged "Catatan"

Menulis Membahagiakan

Menulis Membahagiakan

menulis

Bagi saya, menulis adalah menuangkan tinta kehidupan ke dalam kanvas bahasa yang terangkum dalam kata-kata. Oleh karena itu saya mencintai menulis dan membaca. Ketika saya berkata bahwa tulisan adalah hal terpenting bagi hidup saya, maka itu berarti bahwa saya tidak bisa dipisahkan dengan menulis karena tinta kehidupan saya setiap hari harus selalu tertuang.

Menulis itu membahagiakan. Ya, dengan menulis saya bisa mencurahkan segenap apa yang mengganjal sanubari saya. Dengan menulis saya belajar bagaimana menyelesaikan masalah saya. Dengan menulis saya bisa tenggelam dalam lautan emosi yang tanpa sadar tercipta dengan sendirinya. Dengan menulis saya bisa menangis, tertawa, dan juga merenung. Begitu dahsyat yang saya rasakan ketika saya sedang menulis. Seakan saya telah melewati fase kehidupan yang panjang, dan kembali pada garis start begitu tulisan saya terselesaikan. Dan kejadian itu adalah hal yang ajaib bagi saya. Dan itu juga adalah hal yang sangat membahagiakan.

Menakjubkan rasanya setelah menciptakan sebuah tulisan. Meskipun tulisan itu nantinya tak menarik bagi orang lain atau akan dicemooh oleh orang lain. Namun hal demikian selalu saya tepiskan, apapun karya saya, saya selalu bangga terhadapnya. Tak penting apa pendapat orang tentang tulisan saya. Yang terpenting bagi saya adalah: saya menulis, dan saya bahagia.

 Saya jatuh cinta kepada menulis sejak kelas X SMA. Kala itu saya sangat bermimpi menjadi penulis. Dan bertekad dapat menerbitkan sebuah buku ketika SMA. Oleh karena itu masa-masa SMA adalah masa produktif saya menghasilkan karya-karya. Yah, meski terbilang ecek-ecek, saya tetap bahagia bisa menuangkan tinta kehidupan saya dalam kata-kata.

 “Nikmat kehidupan adalah anugerah terindah dari Allah SWT. Dan dengan menuliskan tentang kehidupan artinya mengabadikan kebesaran-kebesaran Allah.” Itulah kata-kata yang saya patrikan ke dalam diri saya. Dan saya tersadar bahwa ternyata “tulisan itu tidak memiliki usia”. Ia akan kekal selamanya sampai zaman ini binasa. Jika suatu saat nanti saya mati, saya percaya tulisan-tulisan saya akan tetap hidup dan kekal sampai kapanpun. Secara biologis boleh jadi saya telah wafat, namun secara zaman saya tetap hidup bersama tulisan-tulisan yang telah saya ciptakan. Tulisan-tulisan itu akan terus hidup. Bagi seorang penulis, jika kehidupannya telah mati (baca: ia wafat), maka sejatinya ia terus hidup di dunia bersama tulisan-tulisannya. Namun bagi orang yang tidak menulis, jika kehidupannya telah berakhir, maka ia tetap mati bersama kehidupannya yang belum sempat tertuliskan. Jadi, jika kita ingin hidup seribu tahun, maka menulislah!

 

“Orang boleh pandai, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pramoedya Ananta Toer.

 

 

* * * * *

 

Way Kanan, 19 Februari 2012

Inu Anwardani

Read More

Selamat Datang, Senja!

Selamat Datang, Senja!

senja

 

Selamat datang, Senja! Hadirmu meneduhkan batinku. Sepertihalnya hadirnya terang di dalam kegelapan. Menentramkan. Dan menyirnakan segenap kekhawatiran. Bersamamu aku bisa tenggelam dalam jingga kebahagiaan.

 

Senja, entah mengapa aku selalu merindukanmu setiap hari. Ketika pagi menjelang, yang kunanti bukanlah serpihan embun yang jatuh. Bukan pula hangat matahari yang benderang di pelupuk ufuk. Ketika siang, bukanlah naungan awan putih yang kunanti. Sejujurnya aku lebih suka menantikan dirimu. Karena untuk saat ini, bersemayam dalam kedamaian jinggamu lah yang menghadirkan kenyamanan.

 

Kemarin, Semesta masih menjadi pelabuhan untuk jiwaku. Dengan mereka aku bisa melantunkan harmoni hidup dengan langit yang ceria. Namun entah mengapa saat ini hanya engkau yang bisa menjadi dermaga bagiku untuk berlayar, Senja. Saat ini aku belum bisa menemukan diri seperti waktu-waktu yang biasa kujalani. Seperti saat aku terbangun dari mimpi dan menyambut embun pagi dengan senyum. Kemudian membuka cadar pagi dan menemukan kesejukan di taman bersama kupu-kupu yang dengan damai mengepakkan sayapnya. Dan kemudian aku menyapa birunya langit yang bersanding dengan awan-awan kertas. Tapi, sekarang semua itu tak berlaku.

 

Hari demi hari, Semesta seakan menjadi hampa. Aku belum bisa mengembalikan duniaku yang seperti dulu. Sedih rasanya berkemul dalam keterpasungan hidup. Dan yang paling menyedihkan lagi ialah aku hanya bisa meraung, namun tak jua mampu lepas dari jeruji. Hanya Senja lah yang dapat mengantarku pada kebebasan. Ya, kebebasan.

 

Senja, kini kehadiranmu kembali datang. Engkau ada di depan mataku. Inilah momen yang paling membahagiakan untukku, karena bisa menatap keanggunanmu. Engkau yang elok. Engkau yang berwarna jingga. Engkau yang merona bersama mega-mega sore. Ah, aku mengagumimu. Saat engkau datang tiada yang dapat kuberikan selain tersenyum. Akhirnya teretas sudah kabut kacau di hatiku, manakala sambutan lembayungmu menyepuh ke penjuru bumi. Jaya hatiku. Sang bayu membebaskanku dari tumpukan kegersangan.

 

Menatapmu. Memandangmu. Adalah Surga bagiku. Betapa indahnya Tuhan menciptakanmu di langit sore. Dari sini aku memperhatikan keelokan warna jinggamu. Engkau nampak begitu ayu bersama awan putih yang ikut menguning terpantul riak mentari yang melemah. Lirih angin menyanjungmu membisikkan kata-kata rindu. Tak mau kalah engkau menyemaikan warna jinggamu ke seluruh penjuru. Aku mengagumi keindahanmu.

 

Selamat datang, Senja! Saat-saat seperti inilah yang membuatku tak pernah puas menatapmu dan menikmati eloknya dirimu. Kita saling memadu cinta. Kita merona. Dan kita bercerita yang indah-indah. Merangkum penat rindu yang seharian telah menunggu, menanti, dan tak sabar untuk temui.

 

Yang kubenci dari pertemuan kita ialah kita tak punya banyak waktu. Hanya sejenak kita dapat berjumpa dan kemudian kau lantas pergi ditelan temaram. Padahal aku ingin selalu bersamamu. Sering aku menghardik waktu mengapa ia terlalu tergesa-gesa menenggelamkan matahari, sehingga kau demikian cepat pergi. Inginku kau selalu hadir di langitku. Tapi aku bisa apa, kehadiranmu di hari-hariku sudah diatur dalam ketetapan-Nya. Aku hanya bisa berharap agar aku bisa berlari mengejarmu ke penjuru benua, karena aku yakin di benua lain tersebut kau tengah mengemaskan jinggamu juga.

 

Senja, ajari aku cara engkau benderang, agar aku dapat memahami arti sebuah ketenangan. Ajari aku cara engkau merona, agar aku bisa meranum seperti dirimu. Ajari aku bagaimana cara engkau tenggelam, agar aku dapat belajar arti tentang perpisahan.

 

Senja, aku ingin kembali bisa mengagumi Semesta. Bantulah aku untuk menemukan kembali bahasa jiwa. Melalui jingga. Pada Senja.

 

* * *

 

Way Kanan, 18 Februari 2012

Inu Anwardani

Read More
shared on wplocker.com