Posts Tagged "Cinta"

Kau Tahu, Dinda?

Kau Tahu, Dinda?

cinta

Aku tahu sayapku kini telah jauh untuk meraihmu. Selimut jarak memisahkan rentang kita. Tapi aku tetap berusaha menjadi sosok terang dalam hidupmu. Supaya hidupmu tidak sendiri, agar binar senyummu tak lagi sepi. Aku takkan kenal jera menjadi penghiburmu, memulaskan kuasku pada kanvasmu yang hampa sepi. Takkan aku mengenal kesah hingga gugur semua kesedihanmu, hingga luntur segala ratapanmu yang di kelam sunyi.

 

Ketika mentari telah mengufuk di tepi barat,dan rinai senja menyenandungkanmu, kau terbuai dalam masa lalu dan terbayang cita-cita dan impianmu di masa sekolah. Ingatkah engkau ketika kita duduk di bawah pohon kemuning di samping kelas? Ya, ketika itu aku bertanya tentang cita-citamu. Antusiasmu menggetarkan sendiku karena begitu kuatnya mimpimu ingin menjadi seorang Guru. Dalam renyah canda, tanpa permisi kau torehkan bercak kekaguman di dalam hati. Lamat laun setiap dentang waktuku habis dengan berlomba-lomba denganmu. Percepatan dalam prestasi melangkahkan kita pada ombak mimpi yang tiada bertepi. Ceria kita meremukredamkan kebodohan di masa putih abu-abu.

Tapi setelah putih abu-abu berlalu, semua berubah. Impimu terbungkam. Layaknya kerdip lilin yang mati ditelan kelam. Kau merintih, namun tak bisa berbuat apa-apa. Kau ingin terbang ke jagad cita namun kau belum diizinkan untuk mengepak sayap. Kau ingin menyambut mimpi namun segera sadar bahwa tanganmu jauh dari yang kau kejar. Aku mengerti tentang kesedihanmu. Karena bukan sejenak kesepian yang kau rasa, melainkan setahun. Ya, setahun ke depan kau kan jauh dari menuntut ilmu.

Tumpahkanlah, Dinda. Tumpahkanlah semua buncah kekesahanmu yang mengganjal sanubarimu. Kucurkanlah segala euforia pilumu kepadaku. Ceritakanlah semuanya padaku! Hingga kau lelah bercerita. Hingga tiada lagi beban yang menghimpit dada. Hingga tangisanmu habis di muara berlinang. Dan ketika itu kukatakan kepadamu,

Dinda, janganlah engkau bersedih karena kuliahmu tertunda. Karena satu tahun lagi kau pasti akan menjadi Mahasiswa dan akan mengejarku disini. Mereka pasti terkalahkan, karena aku tahu kecerdasanmu akan melewati ketertinggalanmu selama satu tahun ini. Janganlah engkau mengeluh atas hidupmu yang kau lalui kosong layaknya menganggur, karena harusnya kau tahu itu artinya kau harus mengisinya dengan hal-hal yang baik dan berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk hidupmu.

Kau pernah bercerita bahwa menjalani hidup tanpa ada yang dilakukan adalah derita terhebat yang pernah kau rasakan. Kau murung dan kau mengurung dirimu dalam sudut kamar sepimu. Setiap hari kau habiskan waktu dengan ratapanmu yang melulu membahasakan kegagalanmu melanjutkan S1. Berhari-hari, berlarut-larut, kau bilang kau tidak bisa untuk tidak memikirkan masalah itu. Dan selalu saja perasaan itu menang, menjajah dan menjejal hatimu untuk tidak bisa sedikit tenang. Selalu saja bulir bening menganak di sungai linangan. Kesedihanmu seakan himpitan terberat yang membuatmu tertindih, membuatmu terpuruk hingga menyerpih.

Mungkin hanya di dalam mimpi yang membuatmu bisa berdamai dengan Dunia. Karena di sana, katamu, kau dapat merasakan kebahagiaan bersama negeri angan-angan meski itu hanya bohongan. Sedang realita yang nyata menantimu ketika dirimu terjaga.

Kau bercerita, katamu, setiap kali kau terjaga kau tak pernah membawa nyawa untuk menyambut pagi. Nyawamu kau tinggal saat bermimpi di negeri angan. Tidak ada semangat sama sekali. Tidak ada gairah sama sekali. Dan aku hanya bisa membisikkanmu melalui kata-kata. Namun semua itu tak juga ampuh untuk sedikit saja menyita kesedihanmu dan sebentar menggantinya dengan senyum kebahagiaanmu. Apa lagi yang harus kulakukan, Dinda?

Kau tahu, Dinda? Setiap malam aku berfikir bagaimana caranya agar engkau tidak lagi mengeluh. Kucoba menorehkan penaku, mencoba mengukir kata yang indah nan menyemangati di atas kertas sebelum kubisikkan kepadamu. Kadang juga aku berdiri di depan cermin, adakah yang salah dengan diriku, hingga sampai detik ini belum juga mampu membuatmu berdiri dari keterpasungan. Dalam tengadah selalu kuselipkan doa, agar engkau diberikan cahaya, cahaya yang menyadarkanmu bahwa hidup itu mesti berproses. Dan setiap proses itu butuh pengorbanan, bukan berdiam dalam lamunan dan ratapan.

Tapi kau masih bercerita tentang kesedihan. Ingin rasanya aku marah. Ingin aku memakimu karena tak kau indahkan kata-kataku kemarin, seakan kau kubur ucapanku dan lantas kembali datang untuk mengeluhkan hal yang sama. Aku sejujurnya bosan, Dinda. Tapi amarah dan kebosananku itu sialnya tak pernah kutampakkan. Mana bisa aku memarahi sosok putri yang dengannya hatiku telah tertambat. Mana bisa aku memaki sosok dewi yang karenanya aku bisa melihat keindahan. Dan mana bisa aku bosan dan berhenti untuk menyemangati, sedang ceriamulah yang membuatku jadi berarti.

Dinda, lupakah engkau bahwa mimpimu ialah menjadi seorang guru? Seharusnya, jika mimpimu itu benar-benar masih tertanam maka tidak semestinya kau kurung hidupmu seperti sekarang ini. Karena seorang Guru yang baik takkan membiarkan orang lain dan dirinya terpuruk. Seorang Guru takkan pernah berhenti untuk mengajari dan memberi, bukan berkutat dalam kesendirian. Sosok seorang Guru sejati ialah sosok yang menyongsong pagi, menatap matahari dengan berani, menabur kebaikan tiada henti, bukan sosok yang membungkam dirinya sendiri. Kalau mimpimu ingin menjadi Guru itu benar-benar nyata, tunjukkan padaku, Dinda! Tunjukan bahwa kau bisa bersinar dan benderang meski tanpa ada yang menerangimu. Tunjukkan bahwa tanpa kuliahpun kau bisa menuntut ilmu dan menorehkan karyamu. Karena setiap tempat adalah universitas, dan setiap orang adalah dosen, jika engkau menyadarinya.

Dinda, tetaplah memeluk erat cita-citamu. Karena mutiara kemuliaan kan segera kau sentuh. Maka berbahagialah, Dinda! Usah kau merobek mimpi, karena garis cita-cita tinggal kau lewati. Bersabarlah, Dinda…

#Pemanasan Bikin Novel, Hehehe… ^_^

 

* * * * *

 

Way Kanan, 4 Januari 2012

Inu Anwardani

Read More

Membaca Membahagiakan

Membaca Membahagiakan

baca

Sepertihalnya menulis, membaca juga adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari kehidupan. Menulis tanpa membaca merupakan hal fatal karena kita tidak bisa belajar melalui karya-karya banyak orang. Membaca mungkin bisa dilakukan oleh semua orang. Ya, setiap orang bisa menjadi pembaca.

 Membaca adalah bentuk apresiasi dari tulisan. Jika tulisan adalah kehidupan yang tertuang dalam bahasa kata-kata, maka membaca adalah melihat kehidupan orang lain bersama suasana emosi yang diciptakan penulisnya. Kerap kali kita membaca sebuah tulisan dan kita tenggelam di dalamnya. Terkadang kita mengambil pelajaran dari tulisan. Ya, banyak keajaiban yang hadir dari suatu kegiatan yang bernama “membaca”.

Membaca mengajak kita melihat jendela kehidupan orang lain. Di sana kita bisa belajar, ditegur, dinasehati, dan mendapatkan pencerahan. Di sana kita bisa  tertawa, bahagia, bahkan menitikkan air mata. Dengan membaca, sejatinya kita menadah sungai-sungai ilmu, yang dengannya dapat merampas kebodohan dan menggantinya dengan pengetahuan. Jika buku adalah jendela dunia, maka membaca sesungguhnya adalah gerbang menuju kehidupan pengetahuan yang tanpa batas.

Saya beruntung ketika SD saya diajarkan alfabet, karena itu menyadarkan saya bahwa ternyata hidup itu memerintahkan untuk terus membaca, membaca dan membaca. Bahkan ayat Al-Quran yang pertama diturunkan memerintahkan untuk “membaca”. Namun saya heran pada orang-orang yang enggan membaca, mereka bisa membaca, tapi enggan membaca. Ah, mungkin mereka sudah lupa bahwa buku adalah jendela dunia.

 Saya suka membaca apapun. Buku, novel, cerpen dan motivasi adalah santapan saya. Namun seiring berkembangnya teknologi bertambah pula media untuk ilmu pengetahuan dan membaca. Di internet sudah sangat banyak tulisan-tulisan yang beredar. Jadi lebih banyak media yang ditawarkan untuk lebih menggiatkan budaya membaca.

 Dengan membaca, saya bisa tahu bagaimana hati seorang ibu yang membesarkan buah hatinya. Dengan membaca saya jadi tahu bagaimana rasanya sekolah di pedalaman nun disana, yang serba terbatas, namun begitu hidup sikap untuk menuntut ilmu. Dengan membaca, saya juga bisa tahu bagaimana cerita seorang mahasiswa yang berjuang keras untuk bisa terus kuliah. Dengan membaca, saya menemukan warna kehidupan yang baru, yang berharga, yang bisa saya petik hikmahnya. Dengan membaca, saya bahagia.

 Oleh karena itu, membacalah! Karena dengannya sejuta ilmu dapat kita rengkuh. Membaca, gerbang ilmu pengetahuan.

“Segala keranjang dapat penuh dengan diisi. Hanya keranjang ilmu yang kian diisi kian minta ditambah isinya.” Ali bin Abi Thalib

 

* * * * *

 

Way Kanan, 19 Februari 2012

Inu Anwardani

Read More

Menulis Membahagiakan

Menulis Membahagiakan

menulis

Bagi saya, menulis adalah menuangkan tinta kehidupan ke dalam kanvas bahasa yang terangkum dalam kata-kata. Oleh karena itu saya mencintai menulis dan membaca. Ketika saya berkata bahwa tulisan adalah hal terpenting bagi hidup saya, maka itu berarti bahwa saya tidak bisa dipisahkan dengan menulis karena tinta kehidupan saya setiap hari harus selalu tertuang.

Menulis itu membahagiakan. Ya, dengan menulis saya bisa mencurahkan segenap apa yang mengganjal sanubari saya. Dengan menulis saya belajar bagaimana menyelesaikan masalah saya. Dengan menulis saya bisa tenggelam dalam lautan emosi yang tanpa sadar tercipta dengan sendirinya. Dengan menulis saya bisa menangis, tertawa, dan juga merenung. Begitu dahsyat yang saya rasakan ketika saya sedang menulis. Seakan saya telah melewati fase kehidupan yang panjang, dan kembali pada garis start begitu tulisan saya terselesaikan. Dan kejadian itu adalah hal yang ajaib bagi saya. Dan itu juga adalah hal yang sangat membahagiakan.

Menakjubkan rasanya setelah menciptakan sebuah tulisan. Meskipun tulisan itu nantinya tak menarik bagi orang lain atau akan dicemooh oleh orang lain. Namun hal demikian selalu saya tepiskan, apapun karya saya, saya selalu bangga terhadapnya. Tak penting apa pendapat orang tentang tulisan saya. Yang terpenting bagi saya adalah: saya menulis, dan saya bahagia.

 Saya jatuh cinta kepada menulis sejak kelas X SMA. Kala itu saya sangat bermimpi menjadi penulis. Dan bertekad dapat menerbitkan sebuah buku ketika SMA. Oleh karena itu masa-masa SMA adalah masa produktif saya menghasilkan karya-karya. Yah, meski terbilang ecek-ecek, saya tetap bahagia bisa menuangkan tinta kehidupan saya dalam kata-kata.

 “Nikmat kehidupan adalah anugerah terindah dari Allah SWT. Dan dengan menuliskan tentang kehidupan artinya mengabadikan kebesaran-kebesaran Allah.” Itulah kata-kata yang saya patrikan ke dalam diri saya. Dan saya tersadar bahwa ternyata “tulisan itu tidak memiliki usia”. Ia akan kekal selamanya sampai zaman ini binasa. Jika suatu saat nanti saya mati, saya percaya tulisan-tulisan saya akan tetap hidup dan kekal sampai kapanpun. Secara biologis boleh jadi saya telah wafat, namun secara zaman saya tetap hidup bersama tulisan-tulisan yang telah saya ciptakan. Tulisan-tulisan itu akan terus hidup. Bagi seorang penulis, jika kehidupannya telah mati (baca: ia wafat), maka sejatinya ia terus hidup di dunia bersama tulisan-tulisannya. Namun bagi orang yang tidak menulis, jika kehidupannya telah berakhir, maka ia tetap mati bersama kehidupannya yang belum sempat tertuliskan. Jadi, jika kita ingin hidup seribu tahun, maka menulislah!

 

“Orang boleh pandai, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pramoedya Ananta Toer.

 

 

* * * * *

 

Way Kanan, 19 Februari 2012

Inu Anwardani

Read More

Selamat Datang, Senja!

Selamat Datang, Senja!

senja

 

Selamat datang, Senja! Hadirmu meneduhkan batinku. Sepertihalnya hadirnya terang di dalam kegelapan. Menentramkan. Dan menyirnakan segenap kekhawatiran. Bersamamu aku bisa tenggelam dalam jingga kebahagiaan.

 

Senja, entah mengapa aku selalu merindukanmu setiap hari. Ketika pagi menjelang, yang kunanti bukanlah serpihan embun yang jatuh. Bukan pula hangat matahari yang benderang di pelupuk ufuk. Ketika siang, bukanlah naungan awan putih yang kunanti. Sejujurnya aku lebih suka menantikan dirimu. Karena untuk saat ini, bersemayam dalam kedamaian jinggamu lah yang menghadirkan kenyamanan.

 

Kemarin, Semesta masih menjadi pelabuhan untuk jiwaku. Dengan mereka aku bisa melantunkan harmoni hidup dengan langit yang ceria. Namun entah mengapa saat ini hanya engkau yang bisa menjadi dermaga bagiku untuk berlayar, Senja. Saat ini aku belum bisa menemukan diri seperti waktu-waktu yang biasa kujalani. Seperti saat aku terbangun dari mimpi dan menyambut embun pagi dengan senyum. Kemudian membuka cadar pagi dan menemukan kesejukan di taman bersama kupu-kupu yang dengan damai mengepakkan sayapnya. Dan kemudian aku menyapa birunya langit yang bersanding dengan awan-awan kertas. Tapi, sekarang semua itu tak berlaku.

 

Hari demi hari, Semesta seakan menjadi hampa. Aku belum bisa mengembalikan duniaku yang seperti dulu. Sedih rasanya berkemul dalam keterpasungan hidup. Dan yang paling menyedihkan lagi ialah aku hanya bisa meraung, namun tak jua mampu lepas dari jeruji. Hanya Senja lah yang dapat mengantarku pada kebebasan. Ya, kebebasan.

 

Senja, kini kehadiranmu kembali datang. Engkau ada di depan mataku. Inilah momen yang paling membahagiakan untukku, karena bisa menatap keanggunanmu. Engkau yang elok. Engkau yang berwarna jingga. Engkau yang merona bersama mega-mega sore. Ah, aku mengagumimu. Saat engkau datang tiada yang dapat kuberikan selain tersenyum. Akhirnya teretas sudah kabut kacau di hatiku, manakala sambutan lembayungmu menyepuh ke penjuru bumi. Jaya hatiku. Sang bayu membebaskanku dari tumpukan kegersangan.

 

Menatapmu. Memandangmu. Adalah Surga bagiku. Betapa indahnya Tuhan menciptakanmu di langit sore. Dari sini aku memperhatikan keelokan warna jinggamu. Engkau nampak begitu ayu bersama awan putih yang ikut menguning terpantul riak mentari yang melemah. Lirih angin menyanjungmu membisikkan kata-kata rindu. Tak mau kalah engkau menyemaikan warna jinggamu ke seluruh penjuru. Aku mengagumi keindahanmu.

 

Selamat datang, Senja! Saat-saat seperti inilah yang membuatku tak pernah puas menatapmu dan menikmati eloknya dirimu. Kita saling memadu cinta. Kita merona. Dan kita bercerita yang indah-indah. Merangkum penat rindu yang seharian telah menunggu, menanti, dan tak sabar untuk temui.

 

Yang kubenci dari pertemuan kita ialah kita tak punya banyak waktu. Hanya sejenak kita dapat berjumpa dan kemudian kau lantas pergi ditelan temaram. Padahal aku ingin selalu bersamamu. Sering aku menghardik waktu mengapa ia terlalu tergesa-gesa menenggelamkan matahari, sehingga kau demikian cepat pergi. Inginku kau selalu hadir di langitku. Tapi aku bisa apa, kehadiranmu di hari-hariku sudah diatur dalam ketetapan-Nya. Aku hanya bisa berharap agar aku bisa berlari mengejarmu ke penjuru benua, karena aku yakin di benua lain tersebut kau tengah mengemaskan jinggamu juga.

 

Senja, ajari aku cara engkau benderang, agar aku dapat memahami arti sebuah ketenangan. Ajari aku cara engkau merona, agar aku bisa meranum seperti dirimu. Ajari aku bagaimana cara engkau tenggelam, agar aku dapat belajar arti tentang perpisahan.

 

Senja, aku ingin kembali bisa mengagumi Semesta. Bantulah aku untuk menemukan kembali bahasa jiwa. Melalui jingga. Pada Senja.

 

* * *

 

Way Kanan, 18 Februari 2012

Inu Anwardani

Read More
shared on wplocker.com