Posts Tagged "Curhat"

Hingga Paragraf Terakhir

Hingga Paragraf Terakhir

jilbab

Kumasuki kamar yang sudah lama tak kukunjungi itu. Kuhidupkan lampu. Kubuka jendela kamarnya. Terlihat senja sedang bersenandung. Cahaya matahari tengah membiaskan lembayung ke seluruh penjuru langit. Teduh. Sang bayu yang hadir setelah hujan turun membuat dunia seakan berwarna kuning keemasan. Cahaya kuning keemasan itu menyepuh rumah-rumah, pepohonan, jalanan, serta dinding-dinding gedung tinggi perkotaan. Sungguh suasana yang menakjubkan. Di balik jendela ini, kusaksikan Kebesaran Allah yang tergambar dalam ayat kauniah-Nya ketika senja. Maha Suci Engkau…

Perlahan kuadahkan pandangan ke seisi kamar. Kosong. Sudut-sudut kamar menyimpan sisa-sisa kenangan masa itu.  Sejenak, aku berpindah ke dekat meja. Disana tersusun buku-buku miliknya; buku pelajaran, novel, catatan, dan lain-lain. Di atas meja itu ada juga sebuah foto gambar dirinya. Manis sekali. Aku jadi teringat foto ini diambil ketika ia baru berhijrah mengenakan jilbab. Di kamar milik adikku ini, perlahan deru kenangan mengumandang. Seakan ada simfoni yang bernyanyi, yang lantas seketika membuat sejuta ingatan hadir disini.

Kubuka laci di meja tersebut. Ada tumpukan buku dan kotak musik di dalamnya. Kuambil beberapa buku itu, ternyata ada sebuah diary. Ya, diary milik adikku itu. Perlahan kuambil diary itu, kubersihkan debunya, dan lantas ku membacanya…

Masih ingat waktu pertama kali memakai jilbab? Hehe, kalo aku ditanya tentu aku ingat. Pertama kalinya aku pakai jilbab adalah tepat tanggal 17 September. Aku memutuskan untuk mengenakan jilbab ketika aku baru naik kelas XI SMA. Adalah hal yang rumit kujawab jika ada yang bertanya kenapa aku memakai jilbab. Karena, keputusanku memakai jilbab adalah antara keterpaksaan dan tuntutan. Boleh dibilang mungkin aku kurang ikhlas berhijrah memakai jilbab. Bahkan ada bisikan dalam hatiku bahwa aku hanya ikut-ikutan tren jaman sekarang.

 

Aku jadi teringat wajah ayah dan ibu yang begitu setuju jika aku lekas mengenakan jilbab. Hah, kuhela nafas panjang. Kucoba untuk buang jauh-jauh rasa keterpaksaan dan ketidakikhlasan. Dengan berusaha agar hati bisa berniat baik, kuucapkan Bismillah… mudah-mudahan tekadku berhijab berbuah keindahan suatu saat nanti.

 

Hari pertama kukenakan jilbab itu akhirnya tiba. Kusongsong pagi dengan senyuman lebar. Kuharap hari ini menyenangkan sebagai langkah awal untuk hari baru di kehidupanku. Kulangkahkan kaki menuju sekolah. Udara pagi terasa sejuk menerpa hati. Kurapikan jilbab yang terkibar oleh angin. Cahaya mentari pagi menyambutku dengan keakraban dan penuh kehangatan.

 

Namun hari menyenangkan yang kuharapkan sekejap sirna. Temanku si Bobi yang jahil itu menarik jilbabku hingga copot. Sebelumnya Bobi memang adalah teman sejahilan denganku. Aku yang dulu tomboy dan suka bercanda dengannya mungkin baginya masih bisa diajak heboh seperti dulu. Dia cengengesan setelah menjahiliku. Sejadinya aku langsung menangis di meja kelasku. Dalam hati aku merintih, “Hiks… kok ada ya orang yang kayak gitu? Aku ini baru belajar pakai jilbab, tapi udah dijahilin dengan keterlaluan. Hiks…”

 

Masih di hari yang sama. Jam istirahat kedua pun tiba. Tapi aku tidak ke kanti seperti biasanya. Yang kulakukan ialah berdiam di dalam kelas. Aku masih kepikiran yang dilakukan Bobi tadi padaku.

 

Perlahan ada seseorang yang mendekatiku. Ia lantas membangunkan lamunanku. Ternyata dia Rio, pacarku. Kuhapus wajah cemberutku dan lantas tersenyum padanya 

 

“Dari mana? Kok baru keliatan?” Ujarku dengan senyum.

Dia hanya diam.

“Abis dari perpus ya?” lanjutku.

Dia tetap diam.

“Queen, kita putus ya…” ucapnya lirih, namun seakan meledakkan seisi hatiku. Mataku mulai berkaca.

“Kenapa? Salah aku apa, King?” dan air mataku mulai tumpah.

“Aku ngga mau nyakitin kamu, Queen. Aku mau hubungan kita berakhir sekarang. Maafkan aku ya…”

 

Dia lantas meninggalkanku sendiri. Tiada angin serta hujan, tiba-tiba ia memutuskan aku. Perasaanku hancur berkeping-keping. Layaknya benda yang terkena sambaran petir. Kekasihku pergi. Padahal aku sungguh masih sangat sayang padanya. Aku cinta padanya. Tapi kenapa kasih sayangku selama ini jadi percuma? Ingin rasanya aku berteriak setinggi langit mengapa cinta itu tak adil? Mengapa cinta itu tak adil???

 

Air mataku terus meleleh basahi jilbab.

 

Usai sekolah berakhir aku pulang ke rumah dengan tertunduk lesu. Sesampai di rumah aku langsung ke kamarku. Aku ingin menyendiri. Ah, hari ini benar-benar hari yang mengecewakan. Pertama, aku dipermalukan oleh Bobi yang menarik jilbabku hingga lepas. Kedua, aku diputusin oleh kekasihku tanpa alasan. Semua ini terjadi apa karena aku mengenakan jilbab? Apa karena aku jelek memakai jilbab lantas aku kehilangan orang yang aku cintai? Apa karena aku ini tak pantas memakai jilbab hingga orang-orang mempermalukanku seperti itu? Apa karena jilbab?

 

Perlahan air mataku meleleh lagi, teringat wajah kekasihku yang menyejukkan itu, kebaikannya, kenangan bersamanya, semua tentangnya yang buatku bisa mewarnai dunia dengan senyumanku karenanya. Sungguh aku masih sangat mencintainya… Oh Tuhan, aku tak ingin dia pergi, aku sungguh menyayanginya tiada tepi…

 

Sore harinya kakakku menegurku. Sepertinya dia bisa melihat adanya kesedihan di raut wajahku.

 

“Cieee… dedek kecil sekarang udah pake jilbab…” goda kakakku.

Aku hanya cemberut dan diam saja.

“Kok malah diem sih? Lagi sedih ya?”

Aku masih tetap diam.

“Aha, pasti lagi diputusin sama cowoknya ya…” ujar kakakku enteng.

Aku tetap diam, namun sungai dipelupuk mataku yang berbicara. Aku langsung menangis.

“Hey hey hey, kok malah nangis? Kakak salah ngomong ya? Kakak cuma nebak-nebak dan becanda. Kakak cuma kuatir aja ngeliat adek kakak keliatannya sedih. Curhat geh ke kakak kalo ada sesuatu…”

Kuhapus air mataku dan kuberikan senyum untuk kakakku satu-satunya itu.

“Nah gitu dong. Masak udah dewasa masih cengeng?” katanya sambil membalas senyumku.

 

Aku ceritakan semua masalahku pada kakak. Kuceritakan apa yang membuatku menangis. Dan kuceritakan segala yang terjadi padaku di hari ini. Kakak lah tempat curhat terbaikku di seluruh dunia. Aku sayang padanya.

 

“Pake jilbab itu artinya bukan cuma kita meninggalkan pakaian dulu dan mengganti dengan pakaian yang menutup aurat doang. Hijrah itu perjuangan. Kita yang tadinya dikenal suka heboh, harus bisa nunjukkin bahwa kita itu santun. Konsekuensinya berjilbab itu harus berubah total sikap dan hati jadi lebih baik lagi, lebih bijaksana, dan lebih murah hati. Dinda harus bisa ya. Dinda mau kan jadi perempuan yang tidak hanya baik busananya tapi baik juga hatinya?”

“Iya Dinda mau, Kak.” ujarku singkat. Kemudian seraya menghapus tangisku Kakak berkata,

“Jadi, mulai sekarang ikhlasin ya pakai jilbabnya. Dinda jangan sedih dengan yang sudah dipilih untuk menjadi lebih baik. Ngapain kita harus gundah kalau itu buat kita jadi lebih dewasa. Ngapain kita bersedih untuk jadi lebih baik.”

Jeda. Kakak kembali bicara,

“Gimana rasanya diputusin?” tanya kakak.

“Sakit, Kak.”

“Kakak bukannya nggak mau pacaran, andai pacaran itu nggak sakit pasti kakak mau juga pacaran. Hehe…” jeda. “Soal Dinda sekarang yang lagi sakit hati, jangan buat Dinda jadi nggak semangat. Dinda jangan ragu karena cinta seperti itu adalah semu. Cinta yang sejati itu nggak pernah menyakiti. Cinta yang sempurna itu selalu membuat bahagia. Itulah cinta seorang hamba dengan Tuhannya… Cinta illahi, Dinda…”

 

Begitulah adanya kakakku. Ia selalu memberi nasihat berharga untuk memotivasi adiknya. Hari demi hari berlalu. Aku mulai terbiasa mengenakan jilbab tiap ke sekolah. Suatu hari kakak bilang,

 

“Dinda cantik lho kalo di rumah pakai jilbab juga.”

Aku mengernyitkan dahi. Kakak sepertinya sedang menyindirku secara halus. “Kok gitu kak?” tanyaku.

“Iyalah. Kakak ini mau juga ngeliat Dinda cantik. Masak orang-orang di luar dan di sekolah Dinda kasih liat cantiknya Dinda, tapi di rumah sendiri nggak Dinda kasih. Kan nggak adil.”

 

Ah, gara-gara sindiran yang menggoda itu membuat aku jadi selalu mengenakan jilbab di mana saja. Di sekolah, di tempat umum, dan di rumah kukenakan jilbab ini. Kemana aku pergi selalu kupakai jilbab ini.

 

Di suatu hari, kakak kembali menggodaku,.

“Dinda kakak perhatiin jilbabnya kok yang kayak begitu terus ya?” tanya kakak.

“Kayak begitu gimana, Kak?”

“Itu lho. Kok suka banget pake jilbab instan?”

“Kan simpel kak, biar nggak repot.” jeda. “Kenapa? Nggak boleh ya, Kak, ya?” lanjutku.

“Ya boleh lah. Siapa yang melarang. Cuma kayaknya Dinda bakal seribu kali lebih cantik kalo jilbabnya pake yang segiempat. Hmmn, pasti deh malaikat bisa jatuh cinta.”

“Ah, kakak ini bisaan ngodain Dinda terus…”

“Eh tapi ini serius. Orang yang pake jilbab segiempat itu lebih cantik dari yang pake jilbab instan.”

“Uuuuh, jilbab segiempat kan ribet.” keluhku.

“Lho, bukannya cewek itu senengnya yang ribet-ribet? Tuh buktinya banyak cewek yang rela ribet ini itu biar diliat lebih cantik. Bahkan ada yang rela operasi plastik, suntik silikon, dan lain-lain. Nah lho…”

“Iya juga ya…” kataku mengiyakan. Ucapan kaka ada benarnya.

“Makanya, masak untuk lebih cantik lagi nggak mau sedikit ribet. Nih ya, kalo  Dinda nggak percaya, Dinda boleh tanya ke semua cowok-cowok, tanyain ke mereka mana yang lebih bagus, pakai jilbab segiempat atau instan. Kakak jamin semua laki-laki lebih suka ngeliat cewek yang pakai jilbab segiempat. Kakak mewakili kaum lelaki mengeluarkan fatwa, bahwa sesungguhnya jilbab segiempat bisa membuat perempuan seribu kali lebih cantik… Hehe…”

“Iiiih, Kakak lebay deh.”

 

Sejak itu aku jadi lebih suka mengenakan jilbab seperti yang disarankan kakak. Jilbab instan kupakai sewaktu-waktu saja. Aku semakin sayang dengan kakakku. Ia hadir sebagai pencerah dan pemberi kebahagiaan hidupku. Yang kusuka dari kakak adalah nasihatnya yang tidak serta merta menyuruh sesuatu dengan paksa, melainkan secara perlahan satu demi satu. Jika satu hal sudah berhasil dilewati, maka baru  ia akan melanjutkan perintah nasihat yang lain.

 

Di suatu hari kakak menggodaku lagi. Uuh, dasar kakak yang nakal. Hehe…

 

“Jilbab biru muda, baju light-orange bergaris pink, dan rok putih. Ah, ada Bidadari di depan mata kakak. Dinda kayaknya lebih anggun deh hari ini…” ujar kakak sambil tersenyum.

“Anggun? Emang ada yang beda tah, Kak?” tanyaku.

“Ada dong yang beda. Biasanya kan Dinda suka pake celana jeans. Kakak pikir, Dinda seribu kali lebih anggun deh kalo pakai rok dibanding pake celana jeans.”

“Ah kakak ini, kemaren seribu kali lebih cantik, sekarang seribu kali lebih anggun. Hehe…”

“Tapi beneran lho… Kalo nggak percaya Dinda ngaca aja di cermin, kira-kira lebih anggun pakai celana atau rok? Kalau pakai rok kelihatannya lebih sopan, kan?!”

“Iya sih kak, tapi…”

“Tapi ribet?” kata kakak menyerobot ucapanku.

“Tapi Dinda kan rok cuma ada sedikit.”

“Oooh, ya udah besok kakak kasih uang buat kamu beli rok yah?”

“Cihuy… makasih ya, Kak!” senyumku mengembang.

 

Sejak semua hal itu kulalui aku tak terpaksa lagi mengenakan jilbab. Aku benar-benar ikhlas memakai hijab sebagai busana kebesaran kaum perempuan. Aku mencintai jilbab sebagimana aku mencintai Syurga. Dari kakakku, aku diajari sifat kelembutan, aku diajari sifat keanggunan, dan aku diajari betapa indahnya hidup dalam balutan jilbab.

 

Duhai Allah, saksikanlah bahwa aku tulus mematuhi perintah-Mu. Saksikanlah bahwa aku ridho menutup aurat di manapun aku berada. Saksikanlah bahwa aku ikhlas mengenakan jilbab sebagai busana terbaikku… Amin!

 

Kututup diary itu. Telah kubaca semuanya hingga paragraf terakhir. Perlahan air mataku menetes. Kulihat seisi kamar, yang ada hanyalah kosong. Tiada lagi senyuman Bidadari anggun di rumah ini. Tiada lagi sosok ceria yang mengisi kamar ini. Dan tiada lagi wajah manis yang senantiasa memakai jilbab segiempat itu.

Aku jadi teringat kejadian sembilan bulan yang lalu. Dinda yang sedang menaiki skuter maticnya tiba-tiba ditabrak mobil pengangkut barang dari belakang. Kejadian itu begitu cepat. Dan darah membasahi jilbab putihnya. Dinda langsung dibawa ke rumah sakit. Ia pendarahan cukup parah. Empat hari berlalu dan kondisi kesehatan Dinda membaik serta sudah bisa diajak berkomunikasi. Di rumah sakit aku yang menjaganya dan ia selalu kuajak bercanda agar terhibur. Namun sungguh Maha Kuasa Allah, di saat yang tak bisa diperkirakan manusia, Allah mengambil Dinda dalam kondisi kesehatan yang tengah membaik. Tidak ada tanda-tanda, Dinda meninggal begitu saja. Sangat indah, sangat nyaman dengan mewariskan sebuah senyuman.

Kembali air mataku menetes. Senja ini aku jadi sangat rindu dengan Dinda. Aku seperti mengingat semua kejadian yang kualami bersama adikku. Disini semuanya seakan hidup kembali. Ya, semuanya hidup kembali. Ah, kini pastilah Dinda tengah tersenyum bahagia disana. Di tempat terindah yang penuh dengan kenikmatan.

Kutaruh diary itu di atas meja. Aku ingin kembali ke depan jendela. Namun seketika pandanganku menatap ke arah kalender. Betapa terkejutnya aku, ternyata hari ini adalah tanggal 17 September…

 

* * * * *

 

Way Kanan, 22 Juli 2011

Inu Anwardani

Terinspirasi dari sebuah lagu berjudul “Gadis Ayu” by ZERO Nasheed

Read More

Gerbang Kebahagiaanku

Gerbang Kebahagiaanku

gerbang

Semuanya berawal dari keriuhanmu yang memecah pagi. Ketika itu, engkau baru saja dari terminal usai membeli sebuah koran. Dengan wajah yang berias suka cita kau bergegas menunjukkannya padaku.

“Ibuuuu…, liat bu. Alhamdulillah Nia keterima SNMPTN. Nia jadi kuliah tahun ini, Bu. Ini dia nama Nia…” ucapmu sambil menunjuk namamu di koran itu dengan antusias.

Dan seketika aku sangat senang melihat engkau diterima. Terlebih melihat kebahagiaanmu yang membuncah itu, makin membuatku larut dalam syukur yang dalam. Syukur bahwa anakku satu-satunya ini bisa berkuliah tahun ini. Meski, untuk biaya hidup kuliahmu nanti aku dan ayahmu harus berjuang lebih pagi, lebih keras, dan lebih penuh pengorbanan lagi.

Engkau diterima di pilihan kedua, yakni fakultas Pertanian Jurusan Agroekoteknologi. Tidak sesuai yang aku harapkan karena harapanku adalah engkau diterima di FKIP Fisika. Tapi engkau meyakinkan keraguanku,

“Ibu, nggak diciptakan yang namanya fakultas kalo nggak ada pekerjaan yang bisa menampung mahasiswanya. Bu, rezeki Nia di fakultas Pertanian. Izinin Nia yah. Kalaupun Nia diterima di FKIP Fisika apakah ada yang bisa jamin begitu wisuda langsung mendapat pekerjaan? Sekarang ini Fakultas keguruan makin banyak saingan. Bu, sekali ini aja, Nia minta izin, Nia mau kuliah di Pertanian…”

Dengan kata-katamu itu aku pun luluh. Kuizinkan akhirnya engkau kuliah disana. Memang benar katamu, tidak diciptakan sebuah Fakultas jika tidak ada pekerjaan yang bisa menampung mahasiswanya. Dan benar juga bahwa tidak ada yang membedakan Fakultas ini dan Fakultas itu. Engkau benar, dan aku mengizinkanmu…

Waktu kian cepat berlalu seperti angin menerbangkan dedauan dari pohonnya. Atau begitu cepat bagaikan air yang mengalir dari hulu hingga muara. Masa-masa SMA-mu kini sudah kau tinggal dan tengah menjalani tahun kedewasaan. Ya, tidak terasa kini engkau ternyata sudah semester enam.

Mengingatmu yang kini jauh disana terkadang membuatku menjadi rindu. Membuatku menjadi terharu, sedih, bahkan bingung serta pusing. Bagaimana tidak rindu? Engkau adalah anak satu-satunya, dan demi masa depan engkau meninggalkan aku dan ayahmu. Sebagai orang tua aku terkadang ingin sekali bertemu denganmu meski nyatanya jarak memisahkan. Betapa rindunya aku ketika sudah dua bulan engkau tidak pulang kampung. Betapa rindunya ketika engkau bercerita lewat telepon bahwa sebentar lagi KKN dilaksanakan dan selama tiga bulan tidak bisa pulang. Ah, tak tergambarkan betapa rindunya aku padamu, engkau yang anakku satu-satunya, engkau anak perempuan yang kadang membuatku khawatir apa-apa akan terjadi padamu disana. Sering kutitipkan air mata rindu ini ketika menengadah doa kepada-Nya, kupanjatkan pinta agar engkau dijaga oleh-Nya ketika penjagaanku tak sampai. Dan kukirimkan kata hatiku supaya engkau sedikit bisa lebih hemat disana. Kuharap di dalam mimpi dapat engkau mendengarnya. Kuhamburkan juga doa agar aku dan ayahmu bisa terus membiayaimu kuliah.

Mengingatmu juga kadang membuatku terharu. Betapa tidak, katamu, jadi mahasiswa itu sangat melelahkan. Setiap hari dicecari dengan tugas-tugas. Berangkat pagi dan pulang hingga petang. Belum lagi ketika malamnya engkau porsir waktu dengan mengerjakan tugas-tugasmu itu. Engkau merintih. Tapi sabar sayang, engkau pasti bisa melewatinya dengan baik. Betapa inginnya aku agar engkau cepat menjadi sarjana. Ya, sarjana. Gelar itu dapat menyejukkan hati dan mengeringkan keringat ayah ibu yang jatuh selama ini. Pengorbanan kan terasa lunas jika membayangkan kelak engkau akan mengenakan pakaian toga. Wisuda, cepat-cepatlah engkau wisuda, Anakku! Jadilah engkau Sarjana. Ya, Sarjana. Dan sambutlah matahari lebih berani.

Mengingatmu juga terkadang membuatku menjadi sedih. Aku jadi teringat ketika pertama kali aku dan ayahmu mengantarmu ke kota, melepasmu yang sendiri demi cita-cita. Kami mencarikan tempat tinggal untukmu dan membelikan segala perlengkapan kosan dan segala sesuatu untuk kehidupan barumu. Kami melepasmu. Dan sejak itu rumah terasa sepi tanpa hadirnya dirimu. Aku hanya ditemani ayahmu. Tiada lagi yang membantu ayah dan ibu membersihkan sayur-sayuran dan menjualnya di pasar. Dan tiada lagi wajah yang selalu menghiasi isi rumah dengan cerianya, dengan ceritanya, dengan candanya, dan dengan hadirnya hadirmu, duhai Anakku.

Mengingatmu juga sering membuatku menjadi pusing, bingung. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Jikalau aku boleh berkata, maka aku sesungguhnya aku ingin marah kepadamu. Jika aku bisa bicara, sesungguhnya aku ingin bilang agar engkau sedikit memperhatikan konsidi orang tuamu disini, Nak. Namun, aku tak bisa marah di hadapanmu ketika engkau meminta dan meminta lagi. aku tak bisa marah ketika melihat wajahmu dan beningnya bola matamu. Aku tak kuasa marah di hadapmu. Naluri keibuanku mematahkan segala kesulitan yang menghimpit dada, aku selalu mengabulkan apa yang kau pinta meski dengan berhutang sekalipun. Kau tak tahu itu kan? Sengaja kurahasiakan karena tak berani kuungkapkan padamu. Disini aku susah. Tak habis pikir aku mengapa engkau semakin hari semakin merasa kurang. Pahamilah orang tuamu disini, pahami ibu, Nak!

Aku jadi teringat masa-masa pertama kali engkau kuliah. Ketika itu, tiap bulan aku menjatahmu empat ratus lima puluh ribu rupiah. Dan itu sangat cukup bagimu. Bahkan di akhir bulan ketika pulang kampung kau sempatkan untuk membeli oleh-oleh, atau jika masih tersisa engkau akan mengembalikannya padaku. Ah, betapa terharunya aku jika mengingat masa itu…

Namun seiring perlahan-lahan merambahnya waktu, dan kebutuhan ekonomi yang demikian meningkat, mulai kau tinggalkan masa yang membuat ibu terharu padamu. Ya, kau tidak pernah lagi membelikan oleh-oleh atau mengembalikan uang jika tersisa. Bahkan kenyataannya malah kau minta tambah kiriman uang. Dan kini engkau sudah tidak mau memasak sendiri lagi seperti ketika awal kuliah. Kau lebih senang membeli lauk yang sudah jadi di warung. Katamu, biaya kebutuhan sekarang jauh lebih besar ketimbang masa awal kuliah, dan karena alasan terlalu banyak tugas kau tidak punya waktu lagi untuk memasak sendiri. Benar begitukah, Anakku?

Ketika menginjak semester dua, engkau minta padaku untuk dibelikan laptop. Katamu sangat susah mengerjakan tugas-tugas kuliah jika tidak ada laptop, dan repot jika harus meminjam laptop teman atau pergi ke rental komputer untuk mengerjakan tugas. Intinya kau minta aku membelikanmu komputer lipat itu. Akhirnya, dengan berat nafas aku kabulkan permintaanmu itu. Dan aku harus meminjam uang untuk membelikanmu laptop, karena mana ada aku uang sebesar itu. Lagi pula sayur-sayur di kebun kita sedang mengalami masa sulit.

Hari-hari terus berlanjut melangkahi detik-detik kemarin. Engkau seakan semakin serakah tidak lagi melihat kondisi aku dan ayahmu disini. Kau minta dibelikan modem. Kemudian minta dibelikan printer. Ah, hari demi hari semakin kulalui dengan kepayahan. Seakan ada yang mencekik leher ketika kau pinta ini itu dengan mengambek atau menggertak kuliahmu. Aku tak tahu apa jadinya jika pintamu tidak kuturuti.

Selanjutnya kau minta dibelikan dispenser, supaya tidak repot jika mau minum air dingin dan panas. Berlanjut engkau minta dibelikan televisi. Kemudian minggu berikutnya minta kipas angin. Masya Allah, alangkah banyaknya pintamu, duhai Anakku. Aku tak tahu bagaimana kehidupanmu sekarang jika aku berkunjung ke kosanmu. Mungkin, engkau sudah menjadi anak yang bergelimang kemewahan dan ingin selalu dilayani. Tidakkah engkau ingat bagaimana isi rumah kita? Tidakkah engkau ingat bahwa televisi di rumah kita adalah dari pemberian Budemu. Tidakkah engkau ingat bahwa rumah kita sangat sederhana, tidak ada kulkas, tidak ada kipas angin, bahkan tidak ada kendaraan yang bisa dipakai di rumah kita.

Beberapa waktu kemudian engkau kembali membuat ulah. Ya, kau minta dibelikan handphone baru. Apa yang bisa aku lakukan? Mengabulkan pintamu atau menolak keinginanmu. Akhirnya kuserahkan semuanya pada Rabbi, “Ya Allah, senantiasa aku berdoa meminta penjagaan-Mu bagi anakku. Jadikanlah ia anak yang sholehah yang berbakti dan menghormati orang tuanya. Ya Allah jangan biarkan waktu mengubahnya menjadi anak yang berubah. Tetapkan ia menjadi anakku yang seperti dulu, yang baik, yang santun, yang ramah, yang seperti dia yang kukenal dulu…”

Ah, barangkali engkau memang sudah berubah. Tapi satu yang harus kau ingat, Anakku. Janganlah engkau lupa daratan, janganlah engkau lupa pijakan. Lihatlah segalanya sebagimana adanya dirimu yang sesungguhnya. Kembalilah ke dirimu yang fitrah, dirimu yang kukenal itu. Yang seutuhnya mencintai, menghargai, dan menghormati ayah ibumu. Kembalilah layaknya burung yang pulang ke sarang. Kembalilah layaknya layang-layang yang diturunkan ketika petang.

Seperti apapun engkau, kau tetap anakku. Akulah tempat kembalimu. Duduklah di pangkuanku dan akan kuajari kau bahasa perasaan. Melihat engkau baik, adalah hadiah terindah bagiku. Ya, hanya baik. Dan melihatmu bisa bahagia adalah keteduhanku. Melihat engkau bisa tersenyum adalah mentari bagi duniaku. Engkaulah gerbang kebahagiaanku. Maka baik-baiklah engkau disana. Tiada yang lebih membahagiakanku selain melihatmu berhasil di kuliahmu. Dan melihatmu memakai pakaian toga…

 

* * * * *

 

Pergi ke dunia luas, anakku sayang

pergi ke dunia bebas!

Selama angin masih angin buritan

dan matahari pagi menyinar daun-daunan

dalam rimba dan padang hijau

 

Pergi ke laut lepas, anakku sayang

pergi ke alam bebas!

Selama hari belum petang

dan warna senja belum kemerah-merahan

menutup pintu waktu lampau

 

Jika bayang telah pudar

dan elang laut pulang ke sarang

angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri

dan nakhoda sudah tahu pedoman

boleh engkau datang padaku!

 

Kembali pulang, anakku sayang

kembali ke balik malam!

Jika kapalmu telah rapat ke tepi

Kita akan bercerita

“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”

 

……1

 

* * * * *

 

1: Puisi berjudul “Surat dari Ibu” Karya Asrul Sani.

________________

 

Bandar Lampung, 8 Juli 2011

Inu Anwardani

Read More

Kau Tahu, Dinda?

Kau Tahu, Dinda?

cinta

Aku tahu sayapku kini telah jauh untuk meraihmu. Selimut jarak memisahkan rentang kita. Tapi aku tetap berusaha menjadi sosok terang dalam hidupmu. Supaya hidupmu tidak sendiri, agar binar senyummu tak lagi sepi. Aku takkan kenal jera menjadi penghiburmu, memulaskan kuasku pada kanvasmu yang hampa sepi. Takkan aku mengenal kesah hingga gugur semua kesedihanmu, hingga luntur segala ratapanmu yang di kelam sunyi.

 

Ketika mentari telah mengufuk di tepi barat,dan rinai senja menyenandungkanmu, kau terbuai dalam masa lalu dan terbayang cita-cita dan impianmu di masa sekolah. Ingatkah engkau ketika kita duduk di bawah pohon kemuning di samping kelas? Ya, ketika itu aku bertanya tentang cita-citamu. Antusiasmu menggetarkan sendiku karena begitu kuatnya mimpimu ingin menjadi seorang Guru. Dalam renyah canda, tanpa permisi kau torehkan bercak kekaguman di dalam hati. Lamat laun setiap dentang waktuku habis dengan berlomba-lomba denganmu. Percepatan dalam prestasi melangkahkan kita pada ombak mimpi yang tiada bertepi. Ceria kita meremukredamkan kebodohan di masa putih abu-abu.

Tapi setelah putih abu-abu berlalu, semua berubah. Impimu terbungkam. Layaknya kerdip lilin yang mati ditelan kelam. Kau merintih, namun tak bisa berbuat apa-apa. Kau ingin terbang ke jagad cita namun kau belum diizinkan untuk mengepak sayap. Kau ingin menyambut mimpi namun segera sadar bahwa tanganmu jauh dari yang kau kejar. Aku mengerti tentang kesedihanmu. Karena bukan sejenak kesepian yang kau rasa, melainkan setahun. Ya, setahun ke depan kau kan jauh dari menuntut ilmu.

Tumpahkanlah, Dinda. Tumpahkanlah semua buncah kekesahanmu yang mengganjal sanubarimu. Kucurkanlah segala euforia pilumu kepadaku. Ceritakanlah semuanya padaku! Hingga kau lelah bercerita. Hingga tiada lagi beban yang menghimpit dada. Hingga tangisanmu habis di muara berlinang. Dan ketika itu kukatakan kepadamu,

Dinda, janganlah engkau bersedih karena kuliahmu tertunda. Karena satu tahun lagi kau pasti akan menjadi Mahasiswa dan akan mengejarku disini. Mereka pasti terkalahkan, karena aku tahu kecerdasanmu akan melewati ketertinggalanmu selama satu tahun ini. Janganlah engkau mengeluh atas hidupmu yang kau lalui kosong layaknya menganggur, karena harusnya kau tahu itu artinya kau harus mengisinya dengan hal-hal yang baik dan berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk hidupmu.

Kau pernah bercerita bahwa menjalani hidup tanpa ada yang dilakukan adalah derita terhebat yang pernah kau rasakan. Kau murung dan kau mengurung dirimu dalam sudut kamar sepimu. Setiap hari kau habiskan waktu dengan ratapanmu yang melulu membahasakan kegagalanmu melanjutkan S1. Berhari-hari, berlarut-larut, kau bilang kau tidak bisa untuk tidak memikirkan masalah itu. Dan selalu saja perasaan itu menang, menjajah dan menjejal hatimu untuk tidak bisa sedikit tenang. Selalu saja bulir bening menganak di sungai linangan. Kesedihanmu seakan himpitan terberat yang membuatmu tertindih, membuatmu terpuruk hingga menyerpih.

Mungkin hanya di dalam mimpi yang membuatmu bisa berdamai dengan Dunia. Karena di sana, katamu, kau dapat merasakan kebahagiaan bersama negeri angan-angan meski itu hanya bohongan. Sedang realita yang nyata menantimu ketika dirimu terjaga.

Kau bercerita, katamu, setiap kali kau terjaga kau tak pernah membawa nyawa untuk menyambut pagi. Nyawamu kau tinggal saat bermimpi di negeri angan. Tidak ada semangat sama sekali. Tidak ada gairah sama sekali. Dan aku hanya bisa membisikkanmu melalui kata-kata. Namun semua itu tak juga ampuh untuk sedikit saja menyita kesedihanmu dan sebentar menggantinya dengan senyum kebahagiaanmu. Apa lagi yang harus kulakukan, Dinda?

Kau tahu, Dinda? Setiap malam aku berfikir bagaimana caranya agar engkau tidak lagi mengeluh. Kucoba menorehkan penaku, mencoba mengukir kata yang indah nan menyemangati di atas kertas sebelum kubisikkan kepadamu. Kadang juga aku berdiri di depan cermin, adakah yang salah dengan diriku, hingga sampai detik ini belum juga mampu membuatmu berdiri dari keterpasungan. Dalam tengadah selalu kuselipkan doa, agar engkau diberikan cahaya, cahaya yang menyadarkanmu bahwa hidup itu mesti berproses. Dan setiap proses itu butuh pengorbanan, bukan berdiam dalam lamunan dan ratapan.

Tapi kau masih bercerita tentang kesedihan. Ingin rasanya aku marah. Ingin aku memakimu karena tak kau indahkan kata-kataku kemarin, seakan kau kubur ucapanku dan lantas kembali datang untuk mengeluhkan hal yang sama. Aku sejujurnya bosan, Dinda. Tapi amarah dan kebosananku itu sialnya tak pernah kutampakkan. Mana bisa aku memarahi sosok putri yang dengannya hatiku telah tertambat. Mana bisa aku memaki sosok dewi yang karenanya aku bisa melihat keindahan. Dan mana bisa aku bosan dan berhenti untuk menyemangati, sedang ceriamulah yang membuatku jadi berarti.

Dinda, lupakah engkau bahwa mimpimu ialah menjadi seorang guru? Seharusnya, jika mimpimu itu benar-benar masih tertanam maka tidak semestinya kau kurung hidupmu seperti sekarang ini. Karena seorang Guru yang baik takkan membiarkan orang lain dan dirinya terpuruk. Seorang Guru takkan pernah berhenti untuk mengajari dan memberi, bukan berkutat dalam kesendirian. Sosok seorang Guru sejati ialah sosok yang menyongsong pagi, menatap matahari dengan berani, menabur kebaikan tiada henti, bukan sosok yang membungkam dirinya sendiri. Kalau mimpimu ingin menjadi Guru itu benar-benar nyata, tunjukkan padaku, Dinda! Tunjukan bahwa kau bisa bersinar dan benderang meski tanpa ada yang menerangimu. Tunjukkan bahwa tanpa kuliahpun kau bisa menuntut ilmu dan menorehkan karyamu. Karena setiap tempat adalah universitas, dan setiap orang adalah dosen, jika engkau menyadarinya.

Dinda, tetaplah memeluk erat cita-citamu. Karena mutiara kemuliaan kan segera kau sentuh. Maka berbahagialah, Dinda! Usah kau merobek mimpi, karena garis cita-cita tinggal kau lewati. Bersabarlah, Dinda…

#Pemanasan Bikin Novel, Hehehe… ^_^

 

* * * * *

 

Way Kanan, 4 Januari 2012

Inu Anwardani

Read More

Membaca Membahagiakan

Membaca Membahagiakan

baca

Sepertihalnya menulis, membaca juga adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari kehidupan. Menulis tanpa membaca merupakan hal fatal karena kita tidak bisa belajar melalui karya-karya banyak orang. Membaca mungkin bisa dilakukan oleh semua orang. Ya, setiap orang bisa menjadi pembaca.

 Membaca adalah bentuk apresiasi dari tulisan. Jika tulisan adalah kehidupan yang tertuang dalam bahasa kata-kata, maka membaca adalah melihat kehidupan orang lain bersama suasana emosi yang diciptakan penulisnya. Kerap kali kita membaca sebuah tulisan dan kita tenggelam di dalamnya. Terkadang kita mengambil pelajaran dari tulisan. Ya, banyak keajaiban yang hadir dari suatu kegiatan yang bernama “membaca”.

Membaca mengajak kita melihat jendela kehidupan orang lain. Di sana kita bisa belajar, ditegur, dinasehati, dan mendapatkan pencerahan. Di sana kita bisa  tertawa, bahagia, bahkan menitikkan air mata. Dengan membaca, sejatinya kita menadah sungai-sungai ilmu, yang dengannya dapat merampas kebodohan dan menggantinya dengan pengetahuan. Jika buku adalah jendela dunia, maka membaca sesungguhnya adalah gerbang menuju kehidupan pengetahuan yang tanpa batas.

Saya beruntung ketika SD saya diajarkan alfabet, karena itu menyadarkan saya bahwa ternyata hidup itu memerintahkan untuk terus membaca, membaca dan membaca. Bahkan ayat Al-Quran yang pertama diturunkan memerintahkan untuk “membaca”. Namun saya heran pada orang-orang yang enggan membaca, mereka bisa membaca, tapi enggan membaca. Ah, mungkin mereka sudah lupa bahwa buku adalah jendela dunia.

 Saya suka membaca apapun. Buku, novel, cerpen dan motivasi adalah santapan saya. Namun seiring berkembangnya teknologi bertambah pula media untuk ilmu pengetahuan dan membaca. Di internet sudah sangat banyak tulisan-tulisan yang beredar. Jadi lebih banyak media yang ditawarkan untuk lebih menggiatkan budaya membaca.

 Dengan membaca, saya bisa tahu bagaimana hati seorang ibu yang membesarkan buah hatinya. Dengan membaca saya jadi tahu bagaimana rasanya sekolah di pedalaman nun disana, yang serba terbatas, namun begitu hidup sikap untuk menuntut ilmu. Dengan membaca, saya juga bisa tahu bagaimana cerita seorang mahasiswa yang berjuang keras untuk bisa terus kuliah. Dengan membaca, saya menemukan warna kehidupan yang baru, yang berharga, yang bisa saya petik hikmahnya. Dengan membaca, saya bahagia.

 Oleh karena itu, membacalah! Karena dengannya sejuta ilmu dapat kita rengkuh. Membaca, gerbang ilmu pengetahuan.

“Segala keranjang dapat penuh dengan diisi. Hanya keranjang ilmu yang kian diisi kian minta ditambah isinya.” Ali bin Abi Thalib

 

* * * * *

 

Way Kanan, 19 Februari 2012

Inu Anwardani

Read More

Menulis Membahagiakan

Menulis Membahagiakan

menulis

Bagi saya, menulis adalah menuangkan tinta kehidupan ke dalam kanvas bahasa yang terangkum dalam kata-kata. Oleh karena itu saya mencintai menulis dan membaca. Ketika saya berkata bahwa tulisan adalah hal terpenting bagi hidup saya, maka itu berarti bahwa saya tidak bisa dipisahkan dengan menulis karena tinta kehidupan saya setiap hari harus selalu tertuang.

Menulis itu membahagiakan. Ya, dengan menulis saya bisa mencurahkan segenap apa yang mengganjal sanubari saya. Dengan menulis saya belajar bagaimana menyelesaikan masalah saya. Dengan menulis saya bisa tenggelam dalam lautan emosi yang tanpa sadar tercipta dengan sendirinya. Dengan menulis saya bisa menangis, tertawa, dan juga merenung. Begitu dahsyat yang saya rasakan ketika saya sedang menulis. Seakan saya telah melewati fase kehidupan yang panjang, dan kembali pada garis start begitu tulisan saya terselesaikan. Dan kejadian itu adalah hal yang ajaib bagi saya. Dan itu juga adalah hal yang sangat membahagiakan.

Menakjubkan rasanya setelah menciptakan sebuah tulisan. Meskipun tulisan itu nantinya tak menarik bagi orang lain atau akan dicemooh oleh orang lain. Namun hal demikian selalu saya tepiskan, apapun karya saya, saya selalu bangga terhadapnya. Tak penting apa pendapat orang tentang tulisan saya. Yang terpenting bagi saya adalah: saya menulis, dan saya bahagia.

 Saya jatuh cinta kepada menulis sejak kelas X SMA. Kala itu saya sangat bermimpi menjadi penulis. Dan bertekad dapat menerbitkan sebuah buku ketika SMA. Oleh karena itu masa-masa SMA adalah masa produktif saya menghasilkan karya-karya. Yah, meski terbilang ecek-ecek, saya tetap bahagia bisa menuangkan tinta kehidupan saya dalam kata-kata.

 “Nikmat kehidupan adalah anugerah terindah dari Allah SWT. Dan dengan menuliskan tentang kehidupan artinya mengabadikan kebesaran-kebesaran Allah.” Itulah kata-kata yang saya patrikan ke dalam diri saya. Dan saya tersadar bahwa ternyata “tulisan itu tidak memiliki usia”. Ia akan kekal selamanya sampai zaman ini binasa. Jika suatu saat nanti saya mati, saya percaya tulisan-tulisan saya akan tetap hidup dan kekal sampai kapanpun. Secara biologis boleh jadi saya telah wafat, namun secara zaman saya tetap hidup bersama tulisan-tulisan yang telah saya ciptakan. Tulisan-tulisan itu akan terus hidup. Bagi seorang penulis, jika kehidupannya telah mati (baca: ia wafat), maka sejatinya ia terus hidup di dunia bersama tulisan-tulisannya. Namun bagi orang yang tidak menulis, jika kehidupannya telah berakhir, maka ia tetap mati bersama kehidupannya yang belum sempat tertuliskan. Jadi, jika kita ingin hidup seribu tahun, maka menulislah!

 

“Orang boleh pandai, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pramoedya Ananta Toer.

 

 

* * * * *

 

Way Kanan, 19 Februari 2012

Inu Anwardani

Read More
shared on wplocker.com