Posts Tagged "Curhat"

Selamat Datang, Senja!

Selamat Datang, Senja!

senja

 

Selamat datang, Senja! Hadirmu meneduhkan batinku. Sepertihalnya hadirnya terang di dalam kegelapan. Menentramkan. Dan menyirnakan segenap kekhawatiran. Bersamamu aku bisa tenggelam dalam jingga kebahagiaan.

 

Senja, entah mengapa aku selalu merindukanmu setiap hari. Ketika pagi menjelang, yang kunanti bukanlah serpihan embun yang jatuh. Bukan pula hangat matahari yang benderang di pelupuk ufuk. Ketika siang, bukanlah naungan awan putih yang kunanti. Sejujurnya aku lebih suka menantikan dirimu. Karena untuk saat ini, bersemayam dalam kedamaian jinggamu lah yang menghadirkan kenyamanan.

 

Kemarin, Semesta masih menjadi pelabuhan untuk jiwaku. Dengan mereka aku bisa melantunkan harmoni hidup dengan langit yang ceria. Namun entah mengapa saat ini hanya engkau yang bisa menjadi dermaga bagiku untuk berlayar, Senja. Saat ini aku belum bisa menemukan diri seperti waktu-waktu yang biasa kujalani. Seperti saat aku terbangun dari mimpi dan menyambut embun pagi dengan senyum. Kemudian membuka cadar pagi dan menemukan kesejukan di taman bersama kupu-kupu yang dengan damai mengepakkan sayapnya. Dan kemudian aku menyapa birunya langit yang bersanding dengan awan-awan kertas. Tapi, sekarang semua itu tak berlaku.

 

Hari demi hari, Semesta seakan menjadi hampa. Aku belum bisa mengembalikan duniaku yang seperti dulu. Sedih rasanya berkemul dalam keterpasungan hidup. Dan yang paling menyedihkan lagi ialah aku hanya bisa meraung, namun tak jua mampu lepas dari jeruji. Hanya Senja lah yang dapat mengantarku pada kebebasan. Ya, kebebasan.

 

Senja, kini kehadiranmu kembali datang. Engkau ada di depan mataku. Inilah momen yang paling membahagiakan untukku, karena bisa menatap keanggunanmu. Engkau yang elok. Engkau yang berwarna jingga. Engkau yang merona bersama mega-mega sore. Ah, aku mengagumimu. Saat engkau datang tiada yang dapat kuberikan selain tersenyum. Akhirnya teretas sudah kabut kacau di hatiku, manakala sambutan lembayungmu menyepuh ke penjuru bumi. Jaya hatiku. Sang bayu membebaskanku dari tumpukan kegersangan.

 

Menatapmu. Memandangmu. Adalah Surga bagiku. Betapa indahnya Tuhan menciptakanmu di langit sore. Dari sini aku memperhatikan keelokan warna jinggamu. Engkau nampak begitu ayu bersama awan putih yang ikut menguning terpantul riak mentari yang melemah. Lirih angin menyanjungmu membisikkan kata-kata rindu. Tak mau kalah engkau menyemaikan warna jinggamu ke seluruh penjuru. Aku mengagumi keindahanmu.

 

Selamat datang, Senja! Saat-saat seperti inilah yang membuatku tak pernah puas menatapmu dan menikmati eloknya dirimu. Kita saling memadu cinta. Kita merona. Dan kita bercerita yang indah-indah. Merangkum penat rindu yang seharian telah menunggu, menanti, dan tak sabar untuk temui.

 

Yang kubenci dari pertemuan kita ialah kita tak punya banyak waktu. Hanya sejenak kita dapat berjumpa dan kemudian kau lantas pergi ditelan temaram. Padahal aku ingin selalu bersamamu. Sering aku menghardik waktu mengapa ia terlalu tergesa-gesa menenggelamkan matahari, sehingga kau demikian cepat pergi. Inginku kau selalu hadir di langitku. Tapi aku bisa apa, kehadiranmu di hari-hariku sudah diatur dalam ketetapan-Nya. Aku hanya bisa berharap agar aku bisa berlari mengejarmu ke penjuru benua, karena aku yakin di benua lain tersebut kau tengah mengemaskan jinggamu juga.

 

Senja, ajari aku cara engkau benderang, agar aku dapat memahami arti sebuah ketenangan. Ajari aku cara engkau merona, agar aku bisa meranum seperti dirimu. Ajari aku bagaimana cara engkau tenggelam, agar aku dapat belajar arti tentang perpisahan.

 

Senja, aku ingin kembali bisa mengagumi Semesta. Bantulah aku untuk menemukan kembali bahasa jiwa. Melalui jingga. Pada Senja.

 

* * *

 

Way Kanan, 18 Februari 2012

Inu Anwardani

Read More
shared on wplocker.com