Posts Tagged "Diary"

Putricia Humaira Kauniah

Putricia Humaira Kauniah

putricia

Cinta itu adalah warna yang me-nyala-kan hitam dan putih menjadi hidup. Cinta laksana pelangi yang memiliki merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Cinta selalu siap memberi warna dari sketsa sang kanvas. Dengan sedikit sentuhan kelembutan, dengan sedikit goresan kasih sayang, dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian, dan kanvas itu dibingkai oleh relief yang diukir penuh kebersihan dan ketelitian. Maka, akhirnya cinta itu kan menjadi karya cipta terindah maha sempurna. Warna merah yang meneguhkan sikap amanah. Warna jingga yang membikin mata hati selalu terjaga. Warna kuning yang membuat jiwa bening. Warna hijau yang meneduhkan segala bentuk galau dan kacau. Warna biru yang menetapkan hati untuk selalu tawadhu. Warna nila yang membawa ukhuwah menjadi takwa. Dan warna ungu yang menuntun hidup untuk selalu bersatu. Itulah cinta yang sesungguhnya. Berawal cinta, berujung syurga…

Aku tersenyum. Usai membaca sebuah catatan itu di facebook, semakin mengukuhkan kekagumanku padanya. Untuk kesekian kalinya pengguna facebook satu ini membuat mencuat rasa penasaranku. Aku tidak mengenal dia. Tapi aku sungguh ingin mengenalnya dan aku ingin mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Putricia Humaira Kauniah. Sejak pertama melihat nama itu di facebook bawah sadarku langsung terpikat dengan nama itu. Sebuah nama yang sungguh indah, nama yang manis dan nama yang cantik. Hanya dengan melihat nama aku langsung tertarik untuk membuka profil dirinya. Kecantikan nama tersebut terus bersenandung mengiang-ngiang di dalam pikiranku. Berkali-kali terbaca nama itu ketika kupejam mata. Ah, mungkin ada benarnya bahwa hanya dengan secarik nama orang bisa jatuh cinta. Dan aku mungkin adalah salah satu diantaranya.

Berawal dari sebuah grup komunitas matematika di facebook aku mulai menemui nama itu. Sudah terbiasa di dalam grup facebook digunakan untuk tempat berdiskusi, bertukar pikiran, bertanya, dan meminta solusi. Ketika itu, aku bertanya di grup tersebut tentang sebuah soal matematika yang belum aku pahami cara mengerjakannya.

“Jika diketahui (a + 1/a)’2 = 5 , berapakah (a’2 +1/a’2)??? Minta bantuan siapa yang tahu pengerjaan soal ini. Terima kasih. Keterangan ‘ = pangkat :)” tanyaku di grup tersebut.

Tak berapa lama muncul sebuah komentar.

“Anggap 1/a = b.

Berarti a.b = a x 1/a = 1 ….. (1)

-> (a + b)’2 = 5

-> a’2 + 2ab + b’2 = 5 …… (masukkan persamaan 1)

-> a’2 + 2.1 + b’2 = 5

-> a’2 + 2 + b’2 = 5

-> a’2 +  b’2 = 5 – 2

-> a’2 +  b’2 = 3 ……. (karena b = 1/a , maka)

-> a’2 +  1/a’2 = 3

Jadi hasilnya adalah 3. Semoga dimengerti. :)”

Dengan perlahan kupahami tiap langkah-langkah pengerjaan tersebut. Rasanya penyelesaian dari komentator sangatlah runut dan simpel. Sekali baca aku langsung paham. Aku jadi takjub, sudah seharian kukerjakan soal tersebut tapi tidak juga dapat menyelesaikannya. Sedangkan ia, sebentar saja sudah terselesaikan. Akhirnya kuketikkan ucapan  terima kasih di bawah jawaban itu. Perlahan kulihat nama yang memberi jawaban dari pertanyaanku, “Putricia Humaira Kauniah”. Seketika aku tersenyum. Tiada lain yang dapat mengangkat senyumku ketika itu selain nama yang indah itu.

Kulihat info tentang dirinya. Ternyata ia kuliah di Jurusan Pendidikan Matematika IAIN Lampung. Sedangkan aku kuliah di Jurusan yang sama namun aku di Universitas Lampung. Dan kami sama-sama masih menginjak semester tiga ternyata. Kulihat foto miliknya, namun tidak ada foto hasil unggahan dari dirinya melainkan foto bergambar animasi berjilbab.

Kemudian kulihat dinding dari pengguna facebook satu ini. Kubaca satu per satu status-status yang pernah ditulis olehnya.

“Ada setetes rasa Syurga yang Allah percikkan di atas dunia, yakni Kauniah-kauniah yang terpancang kokoh di bumi-Nya. Pandanglah dengan ketakjuban keagungan-Nya: Langit, Bintang, Laut, Bulan, Awan, Hujan. Pandanglah dengan tafakur betapa besar Anugerah-Nya. Takjub hati melihat indah-Nya. Itulah karya Sang Maha Suci. Disitulah kutemukan Syurga hati…”

“Kebangkitan adalah sesuatu yang mesti dimiliki oleh seseorang setelah ia tahu bahwa ia telah terjatuh, tersungkur, bahkan terinjak. Dengan jiwa yang membangkit, maka ketika itulah kembali melejit sebuah ide untuk perubahan yang positif. Jadikanlah setiap detik, menit, dan jam sebagai bentuk kebangkitan. Percepatan, adalah ciri dari muslim yang sejati. Semangat untuk hari ini… ^_^”

“Demi matahari dan sinarnya ketika pagi. Cahaya memberikan ketenangan. Silih bergantinya alam terdapat tanda bagi hamba yg berakal. Menyingsing dan tergelincirnya mentari mengajarkanmu pada kehidupan. Langit yg tujuh tunduk patuh dalam iradat-Nya. Sabda-sabda-Nya bersemayam dalam kauniah-Nya. Lihatlah keagungan-Nya, kepadanyalah tempat dirimu melepaslandaskan cinta. Iqra! Iqra! Bacalah ayat-ayat cinta-Nya…”

Subhanallah… Status-status yang ditulisnya begitu menyentuh qalbu. Status miliknya tidak pernah pendek. Namun selalu panjang berisikan kata mutiara yang belum pernah aku baca. Sepertinya kata mutiara yang terposting ialah kata-kata yang ia rangkai dan buat sendiri. Sangat indah bagiku…

Usai itu aku langsung menambahkan ia sebagai teman.

Hari terus berganti. Namun permintaan pertemananku padanya belum juga dikonfirmasi. Mungkin karena sudah begitu banyak permintaan pertemanan padanya membuatnya malas untuk mengklik tombol konfirmasi di layar facebook. Ah, namun biarlah. Tanpa berteman pun aku tetap bisa melihat aktivitasnya karena akunnya berprivasi terbuka.

Kadang aku kembali grup komunitas matematika. Bertanya sesuatu di sana dan berharap dia berkomentar untuk pertanyaanku. Namun ia tak kunjung datang, malah yang menjawab ialah orang lain. Akhirnya aku menjelajahi profil miliknya. Di dinding miliknya terlihat ia baru saja memposting sebuah catatan. Kuklik link ke arah catatan tersebut. Aku lantas membacanya.

……………….

 

Tiada yang lebih indah dari manisnya rasa sebuah keimanan. Keimanan adalah sebuah tanjakan yang menghantarkan kepada gerbang kebahagiaan. Untuk mencapainya memang butuh pengorbanan, butuh peluh payah, butuh keikhlasan, dan butuh keistiqomahan dalam melangkahi jejak hingga sampai ke sana. Keimanan di pucuk itu takkan terbeli. Karena indah dan manisnya berada dekat dengan Tuhan takkan tergoyahkan oleh iming-iming dunia nan fana. Keimanan itu ada di hati. Dan buahnya yang manis itu berada di relung jiwa terdalam yang merefleksikan seluruh kebaikan dan keikhlasan kepada setiap insan.

 

Sedangkan ihsan ialah puncak tertinggi dari keimanan. Dari puncaknya, kita kan mampu melihat segala sesuatu yang ada dengan kacamata hati. Begitu indahnya ketika hati ini menjadi pemimpin dari mata, telinga, lisan, dan perbuatan dengan segala keteduhannya yang bijaksana. Di puncak ihsan, tiada lagi sifat keburukan dan kedengkian yang terpendam di dalam jiwa. Karena ia merasa Allah melihatnya dan ia melihat Allah di setiap lembar hari-harinya. Tiada lain yang dapat ditoreh oleh peraih Iman dan Ihsan selain berada di kebun Kebenaran dalam keindahan bersama Islam.

 

……………….

 

Itulah penggalan catatan miliknya. Membacanya membuatku kagum. Ia begitu cerdas menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan. Bahasanya indah, menyentuh, dan berukirkan kiasan. Pastilah ia sangat suka dengan menulis dan sudah terbiasa dengan menulis. Tidak seperti diriku.

Setelah membaca catatan itu aku lantas melihat daftar catatan-catatan miliknya yang lain. Subhanallah, banyak sekali. Tak kurang dari lima puluh catatan yang pernah ia tulis. Aku jadi tertarik membaca sebuah cerpen yang ada di catatannya.

Cerpen itu berjudul “Bunga Langit”. Bercerita tentang kisah dua insan manusia yang saling mencintai. Namun dalam untaian cinta mereka yang sedang membara, mereka menemukan cahaya. Ya, cahaya yang menyadarkan bahwa cinta yang mereka punya bukanlah cinta karena Allah semata. Mereka akhirnya menyadari bahwa cinta yang mereka banggakan tidak berujung bahagia yang sempurna karena nilai cintanya mengalahkan cinta kepada Tuhannya. Mereka pernah berujar, “Aku mencintaimu karena Allah…” padahal yang sejujurnya terjadi adalah “Aku mencintai Allah karenamu…”. Itu tak bisa mereka bohongi. Apa gunanya ibadah mereka untuk sholat malam, untuk berpuasa, untuk Dhuha jika bukan berlandas karena Allah melainkan ada seselip nama lawan jenis yang menyemangati untuk beribadah. Bukankah itu perwujudan bahwa ia mencintai Allah karenanya, bukan karena keikhlasan.

Di cerpen tersebut kemudian berlanjut bahwa hubungan dua insan tersebut akhirnya berakhir. Mereka memilih untuk melepas cintanya untuk hidup yang lebih ikhlas dan lebih baik. Sepuluh tahun kemudian, tiada terduga ternyata mereka akan segera melangsungkan pernikahan. Subhanallah… Ternyata jika ia memang jodoh maka ia takkan pergi jauh. Namun begitu menyedihkannya. Satu hari sebelum akad nikah dilaksanakan, si calon suami telah diambil oleh Allah SWT. Calon suami meninggal ketika sesudah sholat jumat motor yang ia bawa ditabrak oleh mobil yang sopirnya sedang mabuk. Suasana ketika itu sangat mengharukan. Langit seakan ingin runtuh. Dan ketika itu bunga-bunga hari esok yang akan dihamburkan ketika akad nikah, seketika tak jadi mewangi. Bunga itu telah terbang ke atas arasy menuju Surga-Nya Allah SWT.

Luar biasa. Usai membaca cerpen itu aku lantas merenung. Ceritanya begitu menyentuh hati, dan hingga tak kuasa aku menjatuhkan air mata. Begitu kuatnya tenaga yang mengalir dalam motivasi di cerpen itu. Dengan bahasa yang indah ia bisa membuat fiksi menjadi seakan nyata dan benar-benar hidup. Kuhapus air mataku usai membaca cerpen itu. Kuharap hikmah yang ada di tulisan itu bisa terus tertanam di dalam jiwaku.

Malam telah larut. Sudah saatnya aku mengerjapkan mata lelah ini. Ku-logout akun facebookku. Kututup jendela browser di windows. Dan akhirnya kumatikan notebookku. Kurebahkan tubuh ini di atas ranjang nan empuk. Bismika Allahumma ahya wa bismika amut…

* * *

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam!”

“Salam kenal ya. Ini dengan cia ya? :)”

“Iya salam kenal juga. Iya ini cia.”

“Aku add kamu karena waktu itu kamu bantu menjawab soal pertanyaanku di komunitas matematika.”

“Oiya, aku inget… Suka matematika ya?”

“Iya suka sekali dengan matematika. Ini aku kuliahnya di jurusan matematika.”

“Oya? Di mana kuliahnya?”

“Di Universitas Lampung. Kalo kamu di IAIN kan?”

“Ooo di Unila tho. Kok tahu aku di IAIN?”

“Tahu karena kemarin liat di info profilmu. Gimana rasanya kuliah matematika di sana?”

“Enak. Aku cinta dengan kampusku. Dan yang paling mengasyikkan adalah menghubungkan matematika ke dalam islam, ternyata begitu banyak yang bisa dianalogikan dari matematika. Di sini aku belajar mengislamkan matematika. Hingga nantinya anak muridku tidak ada yang buta pengetahuan akan agamanya. Kalo di sana gimana?”

“Menarik ya di sana. Jadi pengen nih belajar mengislamkan matematika. :) Di sini aku asyik juga. Diajarkan matematika oleh dosen yang sudah benar-benar matang pendidikannya. Walaupun banyak keteteran karena tugas, namun melihat semangat teman-teman yang menggebu membuatku jadi iri dan malu jika tidak bisa bersaing dengan kecerdasan mereka semua.”

“Menarik juga. Aku merindukan kebersamaan dengan kawan-kawan saling berbagi dan berpacu dalam prestasi. Sukses ya buat mimpi dan cita-cita kita yang mulai kita rakit di bangku kuliah. Semoga Allah mempertemukan kita di masing-masing impian kita menjadi sosok guru yang dicintai murid-muridnya…”

“Amiin… ^_^”

“Amin…”

Krriiiiiiiiiiiiiiiinngg…….

Tiba-tiba alarmku berdering kencang menghempaskan bunga tidurku. Yah, ternyata hanya mimpi. Kupikir itu tadi adalah benar-benar nyata bahwa aku sedang chatting dengan Putricia di facebook. Sial. Padahal aku ingin bertanya-tanya lebih kepadanya meski hanya di dalam mimpi.

Kuadahkan pandangan ke arah jam. Pukul empat lewat tiga puluh. Sebentar lagi adzan subuh tiba. Kubersihkan diri dari sisa-sisa kantuk yang masih menyelimut. Kubasuh dengan wudhu tubuh ini dan lantas siap pergi ke masjid. Memang benar kata Rasul, sholat itu lebih baik daripada tidur. Dan memang mulia apa yang telah dianjurkan oleh Rasulullah, sholat di Masjid itu jauh lebih baik daripada sholat yang didirikan di dalam rumah.

* * *

Bodoh mungkin mengagumi seseorang yang tidak diketahui siapa dirinya. Pun sebingkai wajah orang yang dikagumi itu tidak pernah diketahui. Hanya nama. Ya, hanya nama lah yang membuat hati jadi tertarik dan terpikat. Kemudian berlanjut pada membaca kata-kata yang keluar dari jemari cerdasnya membikin sukma  terpesona, bersimpati, dan hadirlah rasa mengagumi.

Kueja lagi nama itu, Putricia Humaira Kauniah. Aku tersenyum. Terbayang keindahan di fantasi pelupuk mataku. Sepertinya bagi diriku nama itu mengandung sihir yang bisa dalam seketika membuatku hanyut, tenggelam, dan berujung pada senyam-senyumku yang tak terejawantahkan. “Ah, pastilah dia itu cantik, manis, dan dia pasti anggun.” gumam hatiku menerka-nerka.

Ah, aku jadi ingat status mutiaranya dan catatan-catatannya yang pernah kubaca. Semuanya mengiang-ngiang di telinga laksana untaian simphoni yang dengan sempurna menaik-naikkan jiwa.

Dibalut rasa ingin tahu dan penasaran siapakah dirinya yang sebenarnya, aku terus membuka dan mencari tahu semua tentang dirinya. Melalui komentar-komentarnya di status sahabatnya, melalui grup, melalui google, dan juga melalui foto hasil unggahan sahabatnya. Namun nihil, tiada kutemukan wajah dari pemilik nama nan indah itu.

Entah dari mana datangnya rasa kekuatan untuk mencari informasi tentang dirinya. Seakan-akan dalam batinku ada yang menuntun kepadanya. Aku yakin akan sangat menyenangkan jika bisa berkenalan dengan dirinya. Aku percaya jika bersahabat dengan dirinya akan membuatku lebih baik. Akan sangat indah mungkin jika bisa bertukar pikiran dengannya, bisa diperhatikan, meminta diajarkan cara menulis yang baik, mengupas soal-soal matematika, dan lain-lain. Aku yakin, dia bisa mengantarkanku pada kebaikan meski hanya berinteraksi melalui situs pertemanan facebook.

Kubuka facebook dari notebookku. Halaman beranda sudah muncul di depan mata. Fiuh, sudah dua minggu berlalu, namun ternyata permintaan pertemananku belum juga dikonfirmasi olehnya. Ingin rasanya aku mengirim pesan kepadanya agar segera mengkonfirmasi pertemananku. Tapi aku malu, harga diri seakan berbicara menasihatiku, “Kamu itu nggak tahu malu apa? Masak ngebet banget pengen berteman dengan dia. Mau ditaruh mana harga dirimu? Coba bayangkan kalo dia baca pesanmu nanti, malah mungkin dia tambah nggak mau mengkonfirmasi karena sikap kamu yang terlalu berlebihan minta berteman.”

Huft… pertikaian jiwaku terus bergejolak. Terpaksa, yang kulakukan hanyalah menunggu dan menanti. Padahal aku sudah ingin terhubung dengan dirinya, menyukai status-statusnya, mengomentari catatan-catatannya, berchatting dengannya, dan bertanya apapun tentangnya. Aku kembali yakin akan sangat menyenangkan jika sudah berteman dengannya.

Perlahan kubaca status teman-temanku yang muncul di berandaku.

Nadya Cieiimoett: “Uhh, sebel. Pagi-pagi udah dimarahin. Bikin bete…”

Reza Chaiyankdiiia: “Masa-masa yang indah itu sekarang telah berakhir. Sampai kapan kamu terus menyalahkan aku?”

Albar Asshadiq: “Lagi menuju Bandar lampung. Amanah di kampus menungguku…”

Risa Mayasari: “Gesit dong! Mau pulang ini… Gimana sih.”

Icha Nickelodeon: “Taik semua lah… Ga ada yg mau ngertiin gw… Anj**g!!!”

Ukhti Nissaa: “Kalo kayak gini caranya saya ngga suka. Jangan gitu lah, bikin orang lain jadi repot!!!”

Ricky Angkasa: “Air keringg… Ah tapi ngga papa, ngga ada yang tahu aja kalo gw ngga mandi.”

Liya Anggri Cellalucettia: “Terlihat baik cuma dari luarnya. Ternyata sebenarnya tidak konsekuen dengan perkataannya. MERAGUKAN!”

Ukhtina Nayla: “Perutku sakit bgt. Kpala pusing. Badan panas. Astaghfirullah… Aku sakit ya Allah…”

Sejenak aku merenungi status yang mereka update. Sesaat kemudian aku membuka profil milikku. Dan kubaca status-status milikku yang pernah kubagikan. Aku tercenung. Tiada bedanya status-statusku dengan status mereka. Banyak tulisan yang keluar dari jemariku tentang hal yang tiada gunanya, tentang hal yang tiada perlunya dan tiada pentingnya. Kuperbaharui statusku lebih dari lima kali tiap harinya. Namun di dalamnya tidak memberi manfaat untuk yang membaca. Malah status yang kutulis itu berisi keseharianku tentang keluh kesahku, tentang apa yang sedang kulakukan, dan segala apapun yang terjadi di hari-hariku.

Aku rasa aku telah berlebihan. Padahal yang terjadi sesungguhnya aku begitu hampa, aku tidak bahagia. Tulisan status di facebook boleh jadi hanya kedok di depan banyak orang tentang sempitnya dunia yang dimiliki. Ya Allah, aku benar-benar merasa bersalah. Bukankah sama saja aku telah mengumbar auratku di depan banyak orang? Dan aku menyukai orang yang mengomentari tentang auratku itu. Astaghfirullah…

Perlahan kubuka kembali profil facebook milik Putricia. Dua menit yang lalu baru saja ia memperbaharui statusnya. Indah sekali, layak sebuah teguran nan lembut bagiku.

“Dosa itu adalah sesuatu yang jika orang lain mengetahuinya maka kita merasa malu karenanya. Tapi jika kita sudah tidak lagi merasa malu dengan yang telah dilakukan, maka apalah bedanya kita dengan orang-orang yang ada di sana? Mereka yang malah malu jika berpuasa ramadhan. Mereka yang malah malu jika tidak minum-minuman. Mereka yang malah malu jika tidak bergaul bebas. Mereka yang malah malu jika tidak berpakaian seksi, mini, dan ketat. Rasul pernah berkata, malu itu sebagian dari iman. Lantas tanyakan pada diri, apakah rasa malu itu masih ada dalam diri kita?”

Kuresapi kata demi kata di status itu. Memang ada benarnya. Kembali aku terenung memaknai betapa indahnya perangai Putricia. Tak pernah ia berbagi tulisan yang tidak penting. Tak pernah ia berbagi di facebook hal yang tiada guna. Dan tak pernah ia update status kecuali update status yang bermanfaat untuk orang lain. Ah, pastilah ia sosok muslimah yang sejati. Sosok yang belum pernah kutemui selama ini. Belum pernah kulihat seorang gadis yang amat bijak di dunia nyata dan dunia maya. Yang selalu menyuguhkan kearifan dimanapun ia berada.

Putricia pastilah akhwat sejati. Meskipun aku bukanlah sosok ADK dan bukan seorang yang biasa disebut “Ikhwan” dan dipanggil “Akhi”, namun aku bisa menilai mana orang-orang yang benar-benar asli  muslimahnya. Karena ada yang dipanggil Akhwat namun suka sekali mengeluh. Banyak yang suka disebut Ukhti tapi di facebook statusnya selalu menceritakan kesehariannya. Banyak yang katanya akhwat tapi statusnya ngomelin orang. Banyak yang tiap hari berbicara pakai ana-antum tapi di facebook statusnya membicarakan orang. Ada juga yang meluapkan kekesalan dalam statusnya. Ada juga yang ngakunya ADK tapi di dalam status ia ceritakan detil amanah dakwahnya. Tidakkah mereka lupa bahwa itu termasuk riya’? Dan ada juga akhwat yang ogah difoto kalau sedang ada Ikhwan, namun ketika di facebook fotonya begitu banyak dengan jilbab berwarna-warni dan dengan gaya yang bervariasi. Apakah dunia maya melupakan mereka tentang liqo-liqo dan tarbiyah yang mereka jalankan setiap pekan? Bukankah itu semua bukan akhwat namanya?

Astaghfirullah… kenapa aku jadi membicarakan orang begini? Padahal aku sendiri tidaklah berbeda dengan mereka. “Ah, jauh-jauhlah engkau dari diriku hai perkara yang tiada guna!!!” teriakku dalam hati.

Aku kembali ke profil Putricia usai berbicara sendiri dalam renunganku. Putricia baru saja memperbaharui statusnya lima menit yang lalu. Itu berarti saat ini ia sedang online. Meskipun belum berteman dengannya tapi aku bisa ber-chat dengannya melalui grup. Sayangnya, di dalam grup semua orang bisa membaca pesan chat yang tertulis. Namun tak apa, aku akan mencobanya. Kuketikkan dalam chat grup komunitas matematika,

“Assalamualaikum… Salam matematika, adakah yang online disini?”

“Waalaikumsalam. Hadir!”

Aku tiba-tiba tersenyum ada yang membalas pesanku. Tapi aku segera berkernyit karena yang membalas bukan Putricia.

“Waalaikumsalam. Cia hadirrr…”

Kulihat nama yang membalas pesan itu. Ternyata Putricia Humaira kauniah. Aku senang. Kuketikkan lagi kata di chatbox itu,

“Hayo berapa 2 (sin 2x . cos 2x) ???” tanyaku coba memancingnya.

“Ah kecil… itu mah = sin 4x. Iya kan? ^_^” jawabnya dengan cepat. Aku lantas tersenyum, ternyata ia menyambut umpan sapaan pertamaku.

“Hehe… pinter juga. Coba gentian kasih soal balik!” jawabku.

“Oke. 120 + 60 + 30 + … = ….  Berapa hayo?”

“Hmmm… Hasilnya 240. Betul kan?!”

Melalui chat tersebut aku terus beradu soal dengannya. Setelah bosan saling berkutat dengan rumus akhirnya kami menyudahi pertarungan matematika kali ini. Dia sangat pintar matematika ternyata. Dan aku pun tak mau kalah.

“Udahan ah maen soalnya. Capek.” katanya, tertulis di chatbox.

“Oke kalau begitu. Dari tadi ngomong2, ternyata kita belum saling kenal ya?”

“Nama lengkapku udah ada, panggil aja aku cia.”

“Aku Dani.”

“Salam kenal ya Dani.”

“Iya salam kenal juga. Oya, konfirmasi dong pertemanannya. Aku udah add kamu lama, tapi belum dikonfirmasi.”

“Oala… maaf-maaf kalo gitu karena udah bikin nunggu lama. Oke, aku konfirmasi ya. :)”

“Iya, ngga papa kok.”

“Yupz, udah berhasil dikonfirmasi tuh…”

“Makasih ya cia. Oya, aku suka baca catatan-catatan kamu. Aku suka juga membaca status-status kamu lho.”

“Ohya?”

“Beneran.”

“Nggak ada yang bisa aku ucapkan selain terima kasih karena sudah mau membaca tulisan aku. Aku senang kalau ada yang membaca tulisanku. Afwan sebelumnya, aku off ya. Ada yang harus dikerjakan. Assalamualaikum… :)”

“Padahal aku banyak mau tanya sesuatu ke kamu. Ya sudahlah, mungkin lain kali saja. Waalaikumsalam, cia… Seneng dah bisa ngobrol dengan kamu. ^_^”

* * *

Statusnya pagi ini,

“Andai matahari berada di tangan kanan, dan di atas tangan kiri berada rembulan, maka sekali-kali tidak akan kulepas syahadatku sebagai penggadai keimanan. Meski jiwa tersapu badai, meski badan terhempas karang, kalimat tauhid itu kan selamanya kugenggam. Hingga helaan nafas terakhir, hingga usia terjemput takdir, cintaku pada-Nya tiada kulepas layaknya air yang terus mengalir. Aku mencintai-Mu, ya Allah… Aku mencintai-Mu… Tuhan, kuatkan aku. Lindungiku dari putus asa. Jika ku harus mati, pertemukan aku dengan-Mu, pertemukan aku dengannya…”

Usai membaca status itu seketika aku klik tombol like untuk menyukai status itu. Kemudian kukomentari statusnya.

“Membaca tiap kata mutiara yang keluar dari tangan kamu selalu membuat merenung. Aku bersyukur ada orang yang seperti kamu. Untuk kesekian kalinya kata-katamu mengingatkanku bahwa hidup itu mutlak harus berlabuh pada mencintai-Nya. Teruslah untuk konsisten membuat kata-kata seperti ini ya. ^_^”

“Terima kasih, Dani. Semoga nggak hanya aku, tapi orang lain juga mampu membikin kata-kata yang bisa menginspirasi buat orang lain. Kata-kata yang bermanfaat. Kamu juga harus bisa ya… :)” balasnya.

“Insya Allah… Makanya ajarin aku biar bisa merangkai kata-kata yang indah geh!”

“Nggak mau ah, nggak perlu diajarin. Belajar aja dari apa yang kamu baca. Dengan sendirinya kamu pasti bisa dan terbiasa menulis.”

“Uuuh pelit. Ya sudahlah kalau begitu. Akan aku coba…”

* * *

Sore menjelang petang. Bias-bias jingga keemasan begitu elok mewarnai langit sore. Di depan pelataran masjid ini, kusaksikan kebesaran Allah yang terhimpun di dalam senja. Kulihat matahari yang tengah tenggelam. Kulihat burung-burung yang mulai pulang ke sarang. Kulihat awan-awan yang berarak malayang-layang. Kulihat pepohonan yang bergoyang-goyang. Kurasakan angin yang dengan teduh menyapa perlahan. Kulihat sebuah pesawat di angkasa terbang dengan bebas tanpa ada yang menahan.

Begitu detilnya kuperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah di sore ini. Oh Tuhan, betapa besarnya anugerah-Mu. Sungguh Maha Suci Engkau dengan segala kauniah-kauniah-Mu. Sedangkan aku maha kufur dengan nikmat-nikmat-Mu. Ampunkanlah kesombonganku yang selalu lupa dengan ayat-ayat-Mu. Yang membuatku jauh dari kebenaran, yang membuatku jauh dari ketenangan.

Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Kubuka facebookku melalui handphone. Dan kuperbaharui statusku.

“Ketika langit mulai menyalakan cahaya jingga, dan matahari mulai tergelincir di ufuk senja, maka aku kan melengking lantang di puncak-puncak menara tinggi. Aku kan  Melaungkan asma illahi hingga ke relung langit. Aku ada dalam hembusan angin. Aku hinggap di dedaunan, rumah-rumah, dan gedung-gedung menjulang. Dan aku bersemayam di hati-hati orang beriman. Akulah Adzan. Maka jemputlah aku di rumahnya Allah. Selamat menunaikan ibadah sholat maghrib… :)”

Kututup facebookku usai mengetikkan kata-kata itu. Adzan kemudian mulai bersahut-sahutan terdengar. Senandung kalimat-kalimat suci itu mengalun hingga ke hati, menggetarkan sendi, dan menyentuh nurani. “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar…” ucapku dalam hati.

* * *

Sepulang dari sholat maghrib kusempatkan membaca kalam Allah. Al-Quran nan suci berada di tangan. Dengan lafadz yang masih belum sempurna melantunkannya, kucoba membaca Quran Surat Al-Nuur ayat tiga puluh lima. Usai membacanya, kutekuri arti dari ayat tersebut.

“Allah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya berlapis-lapis, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per­umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Perlahan ada butir-butir bening yang mengalir. Alangkah indahnya untaian kata di dalam Surat ini. Begitu menyentuh palung nurani yang terdalam. Berulang-ulang kubaca, dan yang terakumulasikan ialah betapa hinanya aku dan betapa Maha Agungnya Allah. Tak pernah kurasakan getar-getar keimanan seindah yang kurasakan saat ini. Bahkan untuk bisa menangis di dalam doa sangat sulit aku lakukan. Namun kini, rasanya aku mendapat hangat kasih sayang Allah hingga tak kuasa kujatuhkan air mata. Kurenungi apa yang sudah kulakukan, kutafakuri segala apa yang sudah kuperbuat. Tersimpulkan masih begitu banyak yang belum kulakukan untuk kebaikan. Aku berdoa di dalam kalbu,

“Ya Allah, jika ini mamang yang dinamakan petunjuk, maka tunjukilah setiap langkah-langkahku dalam naungan hidayah. Tetapkan aku dalam keimanan yang seperti ini. Ya Rabbi, berilah aku cahaya di atas cahaya…”

Kututup Al-Quran. Kusudahi mentafakuri ayat kauliyah-Nya di ujung maghrib ini. Perlahan kubuka akun facebookku. Aku ingin memperbaharui statusku. Namun bukan status yang biasa kutulis, melainkan aku mencoba memberikan status yang setidaknya bermanfaat dan berguna untuk orang lain. Kuketikkan,

“Pelabuhan itu ada pada-Nya. Di sanalah kita melabuhkan segala persembahan, segala keluh kekesalan, segala beban yang diemban, dan segala rintih ratap atas ujian dan cobaan. Kembali kepada-Nya. Kembali kepada-Nya. Dan memulai lagi histori suram masa lalu  dengan mengawali hari dengan menyebut nama-Nya. Bismillahirahmanirrahim… Ya Allah, tunjukilah aku dalam mengarungi derasnya ombak samudera di Laut Cinta-Mu! :)”

Setelah statusku berhasil diperbaharui seperti biasa aku melihat profil milik Putricia. Siapa tahu di sana aku menemukan kata-kata baru untuk mengecas kembali semangatku. Namun setelah profil miliknya terbuka, seketika aku terkejut. Betapa tak percayanya aku melihat kiriman di dindingnya yang ditulis oleh teman dekatnya.

Ananda Safitri: “Selamat jalan Cia. Semoga di sana diberi tempat terbaik oleh Allah SWT, yaitu Surga. Amin. Kenangan kita akan selalu abadi, sulit untuk mencari sahabat yang seperti dirimu…”

Meyda Mahfunnissa: “Selamat jalan ukhti. Ana uhibbuki. Semoga ditempatkan di tempat yang paling indah.  Doa kami menyertaimu ukh… Ana hampir tak percaya kalau saat ini anti sudah nggak ada. :(  I love you ukh…”

Rifki Putra Kusuma: “Rifki seperti nggak percaya kalau mba cia udah nggak ada. Rifki sedih banget dan merasa kehilangan. Terbayang nggak ada lagi yang bantuin Rifki kalo lagi kesusahan. Nggak ada lagi yang bantuin ngajarin matematika. Nggak ada lagi yang sosok yang penyayang banget sama Rifki. Hiks… Mba cia, kembali geh…”

Haikal Ramadhan: “Innalillahi… Rasanya begitu cepat kamu pergi. Dunia masih butuh matahari ceriamu. Namun Allah telah memanggilmu, pastilah Allah sangat sayang padamu hingga ia mengambilmu. Doaku semoga amal ibadah diterima oleh Allah, dan di sana diberikan tempat yang paling layak nan penuh kebahagiaan. Amin.”

Luruhlah seluruh persendianku membaca ucapan demi ucapan yang tertera di profil miliknya. Dibalut rasa tak percaya sukmaku mulai mengiba-ngiba. Jauh di lubuk hati terdalam sesungguhnya nama nan indah itu sudah kusimpan sejak lama. Nama itu tersimpan rapih dan selalu kujaga di dalam hati. Alfabet nama-nama itu kuukir dengan indahnya, dan mozaiknya secara sempurna menyusunkan ejaan nama indah: Putricia Humaira Kauniah.

Aku tak tahu harus apa dan bagaimana. Yang kurasa ialah ada rasa sesak di dalam dadaku. Keping-keping kebahagiaan yang baru saja kurangkai kini seketika menyajikan euphoria kedukaan. Aku merintih. Kristal bening tak kuasa jatuh membasahi. Aku merasa sangat kehilangan. Padahal baru kemarin aku chatting dengannya. Padahal baru kemarin pertemananku dikonfirmasi olehnya. Padahal baru kemarin kurasakan bahagia karena sudah bisa mengomentari status-statusnya.

Mutiara itu terus mengalir. Tak ada yang bisa terucapkan lagi kecuali desahan kesedihanku karena satu cahaya yang menerangi hidupku telah tiada. Sukmaku benar-benar merasa kerontang, rapuh, dan layu seumpama ranting kering yang ditinggal gugur dedaunannya. Dan hanya tinggal batang kerontang yang tak kuat lagi menahan tumbangnya akar. Aku merasa amat rapuh.

Kubaca kembali petikan status miliknya,

“Andai matahari berada di tangan kanan, dan di atas tangan kiri berada rembulan, maka sekali-kali tidak akan kulepas syahadatku sebagai penggadai keimanan. Meski jiwa tersapu badai, meski badan terhempas karang, kalimat tauhid itu kan selamanya kugenggam. Hingga helaan nafas terakhir, hingga usia terjemput takdir, cintaku pada-Nya tiada kulepas layaknya air yang terus mengalir. Aku mencintai-Mu, ya Allah… Aku mencintai-Mu… Tuhan, kuatkan aku. Lindungiku dari putus asa. Jika ku harus mati, pertemukan aku dengan-Mu, pertemukan aku dengannya…”

Status itu ternyata adalah status terakhir darinya. Mungkin status itu adalah pertanda dari kepergiannya. Aku saja yang tidak sadar akan pertanda itu. Aku tertegun mengingat betapa mulianya hati Putricia. Ya Allah, berilah tempat terindah untuknya…

Dia yang anggun namanya. Dia yang bijak kata-katanya. Dia yang pandai menulis cerita. Dia yang statusnya selalu berisi kata-kata mutiara. Dia yang lembut perangainya. Dia yang coba untuk kuraih hatinya. Dia yang membuatku berkaca padanya. Dia yang mengajariku arti kearifan melalui tulisan-tulisan indahnya.

Sejak pertama aku sudah mengaguminya. Dan hanya dengan mengagumi itu aku sudah cukup bahagia. Ketulusan hatinya mengajariku untuk kembali kepada-Nya. Namun setelah ia tiada, aku tak tahu pada siapa aku bertanya. Pijar semangatku seketika renta. Bagaikan bumi yang kehilangan mataharinya.

* * * * *

Bandar Lampung, 26 September 2011

at Telkom Way Halim Wi-Fi Corner

Inu Anwardani

Apapun yang kamu lakukan, Hidup di atas kebenaran!

Read More

Hingga Paragraf Terakhir

Hingga Paragraf Terakhir

jilbab

Kumasuki kamar yang sudah lama tak kukunjungi itu. Kuhidupkan lampu. Kubuka jendela kamarnya. Terlihat senja sedang bersenandung. Cahaya matahari tengah membiaskan lembayung ke seluruh penjuru langit. Teduh. Sang bayu yang hadir setelah hujan turun membuat dunia seakan berwarna kuning keemasan. Cahaya kuning keemasan itu menyepuh rumah-rumah, pepohonan, jalanan, serta dinding-dinding gedung tinggi perkotaan. Sungguh suasana yang menakjubkan. Di balik jendela ini, kusaksikan Kebesaran Allah yang tergambar dalam ayat kauniah-Nya ketika senja. Maha Suci Engkau…

Perlahan kuadahkan pandangan ke seisi kamar. Kosong. Sudut-sudut kamar menyimpan sisa-sisa kenangan masa itu.  Sejenak, aku berpindah ke dekat meja. Disana tersusun buku-buku miliknya; buku pelajaran, novel, catatan, dan lain-lain. Di atas meja itu ada juga sebuah foto gambar dirinya. Manis sekali. Aku jadi teringat foto ini diambil ketika ia baru berhijrah mengenakan jilbab. Di kamar milik adikku ini, perlahan deru kenangan mengumandang. Seakan ada simfoni yang bernyanyi, yang lantas seketika membuat sejuta ingatan hadir disini.

Kubuka laci di meja tersebut. Ada tumpukan buku dan kotak musik di dalamnya. Kuambil beberapa buku itu, ternyata ada sebuah diary. Ya, diary milik adikku itu. Perlahan kuambil diary itu, kubersihkan debunya, dan lantas ku membacanya…

Masih ingat waktu pertama kali memakai jilbab? Hehe, kalo aku ditanya tentu aku ingat. Pertama kalinya aku pakai jilbab adalah tepat tanggal 17 September. Aku memutuskan untuk mengenakan jilbab ketika aku baru naik kelas XI SMA. Adalah hal yang rumit kujawab jika ada yang bertanya kenapa aku memakai jilbab. Karena, keputusanku memakai jilbab adalah antara keterpaksaan dan tuntutan. Boleh dibilang mungkin aku kurang ikhlas berhijrah memakai jilbab. Bahkan ada bisikan dalam hatiku bahwa aku hanya ikut-ikutan tren jaman sekarang.

 

Aku jadi teringat wajah ayah dan ibu yang begitu setuju jika aku lekas mengenakan jilbab. Hah, kuhela nafas panjang. Kucoba untuk buang jauh-jauh rasa keterpaksaan dan ketidakikhlasan. Dengan berusaha agar hati bisa berniat baik, kuucapkan Bismillah… mudah-mudahan tekadku berhijab berbuah keindahan suatu saat nanti.

 

Hari pertama kukenakan jilbab itu akhirnya tiba. Kusongsong pagi dengan senyuman lebar. Kuharap hari ini menyenangkan sebagai langkah awal untuk hari baru di kehidupanku. Kulangkahkan kaki menuju sekolah. Udara pagi terasa sejuk menerpa hati. Kurapikan jilbab yang terkibar oleh angin. Cahaya mentari pagi menyambutku dengan keakraban dan penuh kehangatan.

 

Namun hari menyenangkan yang kuharapkan sekejap sirna. Temanku si Bobi yang jahil itu menarik jilbabku hingga copot. Sebelumnya Bobi memang adalah teman sejahilan denganku. Aku yang dulu tomboy dan suka bercanda dengannya mungkin baginya masih bisa diajak heboh seperti dulu. Dia cengengesan setelah menjahiliku. Sejadinya aku langsung menangis di meja kelasku. Dalam hati aku merintih, “Hiks… kok ada ya orang yang kayak gitu? Aku ini baru belajar pakai jilbab, tapi udah dijahilin dengan keterlaluan. Hiks…”

 

Masih di hari yang sama. Jam istirahat kedua pun tiba. Tapi aku tidak ke kanti seperti biasanya. Yang kulakukan ialah berdiam di dalam kelas. Aku masih kepikiran yang dilakukan Bobi tadi padaku.

 

Perlahan ada seseorang yang mendekatiku. Ia lantas membangunkan lamunanku. Ternyata dia Rio, pacarku. Kuhapus wajah cemberutku dan lantas tersenyum padanya 

 

“Dari mana? Kok baru keliatan?” Ujarku dengan senyum.

Dia hanya diam.

“Abis dari perpus ya?” lanjutku.

Dia tetap diam.

“Queen, kita putus ya…” ucapnya lirih, namun seakan meledakkan seisi hatiku. Mataku mulai berkaca.

“Kenapa? Salah aku apa, King?” dan air mataku mulai tumpah.

“Aku ngga mau nyakitin kamu, Queen. Aku mau hubungan kita berakhir sekarang. Maafkan aku ya…”

 

Dia lantas meninggalkanku sendiri. Tiada angin serta hujan, tiba-tiba ia memutuskan aku. Perasaanku hancur berkeping-keping. Layaknya benda yang terkena sambaran petir. Kekasihku pergi. Padahal aku sungguh masih sangat sayang padanya. Aku cinta padanya. Tapi kenapa kasih sayangku selama ini jadi percuma? Ingin rasanya aku berteriak setinggi langit mengapa cinta itu tak adil? Mengapa cinta itu tak adil???

 

Air mataku terus meleleh basahi jilbab.

 

Usai sekolah berakhir aku pulang ke rumah dengan tertunduk lesu. Sesampai di rumah aku langsung ke kamarku. Aku ingin menyendiri. Ah, hari ini benar-benar hari yang mengecewakan. Pertama, aku dipermalukan oleh Bobi yang menarik jilbabku hingga lepas. Kedua, aku diputusin oleh kekasihku tanpa alasan. Semua ini terjadi apa karena aku mengenakan jilbab? Apa karena aku jelek memakai jilbab lantas aku kehilangan orang yang aku cintai? Apa karena aku ini tak pantas memakai jilbab hingga orang-orang mempermalukanku seperti itu? Apa karena jilbab?

 

Perlahan air mataku meleleh lagi, teringat wajah kekasihku yang menyejukkan itu, kebaikannya, kenangan bersamanya, semua tentangnya yang buatku bisa mewarnai dunia dengan senyumanku karenanya. Sungguh aku masih sangat mencintainya… Oh Tuhan, aku tak ingin dia pergi, aku sungguh menyayanginya tiada tepi…

 

Sore harinya kakakku menegurku. Sepertinya dia bisa melihat adanya kesedihan di raut wajahku.

 

“Cieee… dedek kecil sekarang udah pake jilbab…” goda kakakku.

Aku hanya cemberut dan diam saja.

“Kok malah diem sih? Lagi sedih ya?”

Aku masih tetap diam.

“Aha, pasti lagi diputusin sama cowoknya ya…” ujar kakakku enteng.

Aku tetap diam, namun sungai dipelupuk mataku yang berbicara. Aku langsung menangis.

“Hey hey hey, kok malah nangis? Kakak salah ngomong ya? Kakak cuma nebak-nebak dan becanda. Kakak cuma kuatir aja ngeliat adek kakak keliatannya sedih. Curhat geh ke kakak kalo ada sesuatu…”

Kuhapus air mataku dan kuberikan senyum untuk kakakku satu-satunya itu.

“Nah gitu dong. Masak udah dewasa masih cengeng?” katanya sambil membalas senyumku.

 

Aku ceritakan semua masalahku pada kakak. Kuceritakan apa yang membuatku menangis. Dan kuceritakan segala yang terjadi padaku di hari ini. Kakak lah tempat curhat terbaikku di seluruh dunia. Aku sayang padanya.

 

“Pake jilbab itu artinya bukan cuma kita meninggalkan pakaian dulu dan mengganti dengan pakaian yang menutup aurat doang. Hijrah itu perjuangan. Kita yang tadinya dikenal suka heboh, harus bisa nunjukkin bahwa kita itu santun. Konsekuensinya berjilbab itu harus berubah total sikap dan hati jadi lebih baik lagi, lebih bijaksana, dan lebih murah hati. Dinda harus bisa ya. Dinda mau kan jadi perempuan yang tidak hanya baik busananya tapi baik juga hatinya?”

“Iya Dinda mau, Kak.” ujarku singkat. Kemudian seraya menghapus tangisku Kakak berkata,

“Jadi, mulai sekarang ikhlasin ya pakai jilbabnya. Dinda jangan sedih dengan yang sudah dipilih untuk menjadi lebih baik. Ngapain kita harus gundah kalau itu buat kita jadi lebih dewasa. Ngapain kita bersedih untuk jadi lebih baik.”

Jeda. Kakak kembali bicara,

“Gimana rasanya diputusin?” tanya kakak.

“Sakit, Kak.”

“Kakak bukannya nggak mau pacaran, andai pacaran itu nggak sakit pasti kakak mau juga pacaran. Hehe…” jeda. “Soal Dinda sekarang yang lagi sakit hati, jangan buat Dinda jadi nggak semangat. Dinda jangan ragu karena cinta seperti itu adalah semu. Cinta yang sejati itu nggak pernah menyakiti. Cinta yang sempurna itu selalu membuat bahagia. Itulah cinta seorang hamba dengan Tuhannya… Cinta illahi, Dinda…”

 

Begitulah adanya kakakku. Ia selalu memberi nasihat berharga untuk memotivasi adiknya. Hari demi hari berlalu. Aku mulai terbiasa mengenakan jilbab tiap ke sekolah. Suatu hari kakak bilang,

 

“Dinda cantik lho kalo di rumah pakai jilbab juga.”

Aku mengernyitkan dahi. Kakak sepertinya sedang menyindirku secara halus. “Kok gitu kak?” tanyaku.

“Iyalah. Kakak ini mau juga ngeliat Dinda cantik. Masak orang-orang di luar dan di sekolah Dinda kasih liat cantiknya Dinda, tapi di rumah sendiri nggak Dinda kasih. Kan nggak adil.”

 

Ah, gara-gara sindiran yang menggoda itu membuat aku jadi selalu mengenakan jilbab di mana saja. Di sekolah, di tempat umum, dan di rumah kukenakan jilbab ini. Kemana aku pergi selalu kupakai jilbab ini.

 

Di suatu hari, kakak kembali menggodaku,.

“Dinda kakak perhatiin jilbabnya kok yang kayak begitu terus ya?” tanya kakak.

“Kayak begitu gimana, Kak?”

“Itu lho. Kok suka banget pake jilbab instan?”

“Kan simpel kak, biar nggak repot.” jeda. “Kenapa? Nggak boleh ya, Kak, ya?” lanjutku.

“Ya boleh lah. Siapa yang melarang. Cuma kayaknya Dinda bakal seribu kali lebih cantik kalo jilbabnya pake yang segiempat. Hmmn, pasti deh malaikat bisa jatuh cinta.”

“Ah, kakak ini bisaan ngodain Dinda terus…”

“Eh tapi ini serius. Orang yang pake jilbab segiempat itu lebih cantik dari yang pake jilbab instan.”

“Uuuuh, jilbab segiempat kan ribet.” keluhku.

“Lho, bukannya cewek itu senengnya yang ribet-ribet? Tuh buktinya banyak cewek yang rela ribet ini itu biar diliat lebih cantik. Bahkan ada yang rela operasi plastik, suntik silikon, dan lain-lain. Nah lho…”

“Iya juga ya…” kataku mengiyakan. Ucapan kaka ada benarnya.

“Makanya, masak untuk lebih cantik lagi nggak mau sedikit ribet. Nih ya, kalo  Dinda nggak percaya, Dinda boleh tanya ke semua cowok-cowok, tanyain ke mereka mana yang lebih bagus, pakai jilbab segiempat atau instan. Kakak jamin semua laki-laki lebih suka ngeliat cewek yang pakai jilbab segiempat. Kakak mewakili kaum lelaki mengeluarkan fatwa, bahwa sesungguhnya jilbab segiempat bisa membuat perempuan seribu kali lebih cantik… Hehe…”

“Iiiih, Kakak lebay deh.”

 

Sejak itu aku jadi lebih suka mengenakan jilbab seperti yang disarankan kakak. Jilbab instan kupakai sewaktu-waktu saja. Aku semakin sayang dengan kakakku. Ia hadir sebagai pencerah dan pemberi kebahagiaan hidupku. Yang kusuka dari kakak adalah nasihatnya yang tidak serta merta menyuruh sesuatu dengan paksa, melainkan secara perlahan satu demi satu. Jika satu hal sudah berhasil dilewati, maka baru  ia akan melanjutkan perintah nasihat yang lain.

 

Di suatu hari kakak menggodaku lagi. Uuh, dasar kakak yang nakal. Hehe…

 

“Jilbab biru muda, baju light-orange bergaris pink, dan rok putih. Ah, ada Bidadari di depan mata kakak. Dinda kayaknya lebih anggun deh hari ini…” ujar kakak sambil tersenyum.

“Anggun? Emang ada yang beda tah, Kak?” tanyaku.

“Ada dong yang beda. Biasanya kan Dinda suka pake celana jeans. Kakak pikir, Dinda seribu kali lebih anggun deh kalo pakai rok dibanding pake celana jeans.”

“Ah kakak ini, kemaren seribu kali lebih cantik, sekarang seribu kali lebih anggun. Hehe…”

“Tapi beneran lho… Kalo nggak percaya Dinda ngaca aja di cermin, kira-kira lebih anggun pakai celana atau rok? Kalau pakai rok kelihatannya lebih sopan, kan?!”

“Iya sih kak, tapi…”

“Tapi ribet?” kata kakak menyerobot ucapanku.

“Tapi Dinda kan rok cuma ada sedikit.”

“Oooh, ya udah besok kakak kasih uang buat kamu beli rok yah?”

“Cihuy… makasih ya, Kak!” senyumku mengembang.

 

Sejak semua hal itu kulalui aku tak terpaksa lagi mengenakan jilbab. Aku benar-benar ikhlas memakai hijab sebagai busana kebesaran kaum perempuan. Aku mencintai jilbab sebagimana aku mencintai Syurga. Dari kakakku, aku diajari sifat kelembutan, aku diajari sifat keanggunan, dan aku diajari betapa indahnya hidup dalam balutan jilbab.

 

Duhai Allah, saksikanlah bahwa aku tulus mematuhi perintah-Mu. Saksikanlah bahwa aku ridho menutup aurat di manapun aku berada. Saksikanlah bahwa aku ikhlas mengenakan jilbab sebagai busana terbaikku… Amin!

 

Kututup diary itu. Telah kubaca semuanya hingga paragraf terakhir. Perlahan air mataku menetes. Kulihat seisi kamar, yang ada hanyalah kosong. Tiada lagi senyuman Bidadari anggun di rumah ini. Tiada lagi sosok ceria yang mengisi kamar ini. Dan tiada lagi wajah manis yang senantiasa memakai jilbab segiempat itu.

Aku jadi teringat kejadian sembilan bulan yang lalu. Dinda yang sedang menaiki skuter maticnya tiba-tiba ditabrak mobil pengangkut barang dari belakang. Kejadian itu begitu cepat. Dan darah membasahi jilbab putihnya. Dinda langsung dibawa ke rumah sakit. Ia pendarahan cukup parah. Empat hari berlalu dan kondisi kesehatan Dinda membaik serta sudah bisa diajak berkomunikasi. Di rumah sakit aku yang menjaganya dan ia selalu kuajak bercanda agar terhibur. Namun sungguh Maha Kuasa Allah, di saat yang tak bisa diperkirakan manusia, Allah mengambil Dinda dalam kondisi kesehatan yang tengah membaik. Tidak ada tanda-tanda, Dinda meninggal begitu saja. Sangat indah, sangat nyaman dengan mewariskan sebuah senyuman.

Kembali air mataku menetes. Senja ini aku jadi sangat rindu dengan Dinda. Aku seperti mengingat semua kejadian yang kualami bersama adikku. Disini semuanya seakan hidup kembali. Ya, semuanya hidup kembali. Ah, kini pastilah Dinda tengah tersenyum bahagia disana. Di tempat terindah yang penuh dengan kenikmatan.

Kutaruh diary itu di atas meja. Aku ingin kembali ke depan jendela. Namun seketika pandanganku menatap ke arah kalender. Betapa terkejutnya aku, ternyata hari ini adalah tanggal 17 September…

 

* * * * *

 

Way Kanan, 22 Juli 2011

Inu Anwardani

Terinspirasi dari sebuah lagu berjudul “Gadis Ayu” by ZERO Nasheed

Read More

Kau Tahu, Dinda?

Kau Tahu, Dinda?

cinta

Aku tahu sayapku kini telah jauh untuk meraihmu. Selimut jarak memisahkan rentang kita. Tapi aku tetap berusaha menjadi sosok terang dalam hidupmu. Supaya hidupmu tidak sendiri, agar binar senyummu tak lagi sepi. Aku takkan kenal jera menjadi penghiburmu, memulaskan kuasku pada kanvasmu yang hampa sepi. Takkan aku mengenal kesah hingga gugur semua kesedihanmu, hingga luntur segala ratapanmu yang di kelam sunyi.

 

Ketika mentari telah mengufuk di tepi barat,dan rinai senja menyenandungkanmu, kau terbuai dalam masa lalu dan terbayang cita-cita dan impianmu di masa sekolah. Ingatkah engkau ketika kita duduk di bawah pohon kemuning di samping kelas? Ya, ketika itu aku bertanya tentang cita-citamu. Antusiasmu menggetarkan sendiku karena begitu kuatnya mimpimu ingin menjadi seorang Guru. Dalam renyah canda, tanpa permisi kau torehkan bercak kekaguman di dalam hati. Lamat laun setiap dentang waktuku habis dengan berlomba-lomba denganmu. Percepatan dalam prestasi melangkahkan kita pada ombak mimpi yang tiada bertepi. Ceria kita meremukredamkan kebodohan di masa putih abu-abu.

Tapi setelah putih abu-abu berlalu, semua berubah. Impimu terbungkam. Layaknya kerdip lilin yang mati ditelan kelam. Kau merintih, namun tak bisa berbuat apa-apa. Kau ingin terbang ke jagad cita namun kau belum diizinkan untuk mengepak sayap. Kau ingin menyambut mimpi namun segera sadar bahwa tanganmu jauh dari yang kau kejar. Aku mengerti tentang kesedihanmu. Karena bukan sejenak kesepian yang kau rasa, melainkan setahun. Ya, setahun ke depan kau kan jauh dari menuntut ilmu.

Tumpahkanlah, Dinda. Tumpahkanlah semua buncah kekesahanmu yang mengganjal sanubarimu. Kucurkanlah segala euforia pilumu kepadaku. Ceritakanlah semuanya padaku! Hingga kau lelah bercerita. Hingga tiada lagi beban yang menghimpit dada. Hingga tangisanmu habis di muara berlinang. Dan ketika itu kukatakan kepadamu,

Dinda, janganlah engkau bersedih karena kuliahmu tertunda. Karena satu tahun lagi kau pasti akan menjadi Mahasiswa dan akan mengejarku disini. Mereka pasti terkalahkan, karena aku tahu kecerdasanmu akan melewati ketertinggalanmu selama satu tahun ini. Janganlah engkau mengeluh atas hidupmu yang kau lalui kosong layaknya menganggur, karena harusnya kau tahu itu artinya kau harus mengisinya dengan hal-hal yang baik dan berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk hidupmu.

Kau pernah bercerita bahwa menjalani hidup tanpa ada yang dilakukan adalah derita terhebat yang pernah kau rasakan. Kau murung dan kau mengurung dirimu dalam sudut kamar sepimu. Setiap hari kau habiskan waktu dengan ratapanmu yang melulu membahasakan kegagalanmu melanjutkan S1. Berhari-hari, berlarut-larut, kau bilang kau tidak bisa untuk tidak memikirkan masalah itu. Dan selalu saja perasaan itu menang, menjajah dan menjejal hatimu untuk tidak bisa sedikit tenang. Selalu saja bulir bening menganak di sungai linangan. Kesedihanmu seakan himpitan terberat yang membuatmu tertindih, membuatmu terpuruk hingga menyerpih.

Mungkin hanya di dalam mimpi yang membuatmu bisa berdamai dengan Dunia. Karena di sana, katamu, kau dapat merasakan kebahagiaan bersama negeri angan-angan meski itu hanya bohongan. Sedang realita yang nyata menantimu ketika dirimu terjaga.

Kau bercerita, katamu, setiap kali kau terjaga kau tak pernah membawa nyawa untuk menyambut pagi. Nyawamu kau tinggal saat bermimpi di negeri angan. Tidak ada semangat sama sekali. Tidak ada gairah sama sekali. Dan aku hanya bisa membisikkanmu melalui kata-kata. Namun semua itu tak juga ampuh untuk sedikit saja menyita kesedihanmu dan sebentar menggantinya dengan senyum kebahagiaanmu. Apa lagi yang harus kulakukan, Dinda?

Kau tahu, Dinda? Setiap malam aku berfikir bagaimana caranya agar engkau tidak lagi mengeluh. Kucoba menorehkan penaku, mencoba mengukir kata yang indah nan menyemangati di atas kertas sebelum kubisikkan kepadamu. Kadang juga aku berdiri di depan cermin, adakah yang salah dengan diriku, hingga sampai detik ini belum juga mampu membuatmu berdiri dari keterpasungan. Dalam tengadah selalu kuselipkan doa, agar engkau diberikan cahaya, cahaya yang menyadarkanmu bahwa hidup itu mesti berproses. Dan setiap proses itu butuh pengorbanan, bukan berdiam dalam lamunan dan ratapan.

Tapi kau masih bercerita tentang kesedihan. Ingin rasanya aku marah. Ingin aku memakimu karena tak kau indahkan kata-kataku kemarin, seakan kau kubur ucapanku dan lantas kembali datang untuk mengeluhkan hal yang sama. Aku sejujurnya bosan, Dinda. Tapi amarah dan kebosananku itu sialnya tak pernah kutampakkan. Mana bisa aku memarahi sosok putri yang dengannya hatiku telah tertambat. Mana bisa aku memaki sosok dewi yang karenanya aku bisa melihat keindahan. Dan mana bisa aku bosan dan berhenti untuk menyemangati, sedang ceriamulah yang membuatku jadi berarti.

Dinda, lupakah engkau bahwa mimpimu ialah menjadi seorang guru? Seharusnya, jika mimpimu itu benar-benar masih tertanam maka tidak semestinya kau kurung hidupmu seperti sekarang ini. Karena seorang Guru yang baik takkan membiarkan orang lain dan dirinya terpuruk. Seorang Guru takkan pernah berhenti untuk mengajari dan memberi, bukan berkutat dalam kesendirian. Sosok seorang Guru sejati ialah sosok yang menyongsong pagi, menatap matahari dengan berani, menabur kebaikan tiada henti, bukan sosok yang membungkam dirinya sendiri. Kalau mimpimu ingin menjadi Guru itu benar-benar nyata, tunjukkan padaku, Dinda! Tunjukan bahwa kau bisa bersinar dan benderang meski tanpa ada yang menerangimu. Tunjukkan bahwa tanpa kuliahpun kau bisa menuntut ilmu dan menorehkan karyamu. Karena setiap tempat adalah universitas, dan setiap orang adalah dosen, jika engkau menyadarinya.

Dinda, tetaplah memeluk erat cita-citamu. Karena mutiara kemuliaan kan segera kau sentuh. Maka berbahagialah, Dinda! Usah kau merobek mimpi, karena garis cita-cita tinggal kau lewati. Bersabarlah, Dinda…

#Pemanasan Bikin Novel, Hehehe… ^_^

 

* * * * *

 

Way Kanan, 4 Januari 2012

Inu Anwardani

Read More

Membaca Membahagiakan

Membaca Membahagiakan

baca

Sepertihalnya menulis, membaca juga adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari kehidupan. Menulis tanpa membaca merupakan hal fatal karena kita tidak bisa belajar melalui karya-karya banyak orang. Membaca mungkin bisa dilakukan oleh semua orang. Ya, setiap orang bisa menjadi pembaca.

 Membaca adalah bentuk apresiasi dari tulisan. Jika tulisan adalah kehidupan yang tertuang dalam bahasa kata-kata, maka membaca adalah melihat kehidupan orang lain bersama suasana emosi yang diciptakan penulisnya. Kerap kali kita membaca sebuah tulisan dan kita tenggelam di dalamnya. Terkadang kita mengambil pelajaran dari tulisan. Ya, banyak keajaiban yang hadir dari suatu kegiatan yang bernama “membaca”.

Membaca mengajak kita melihat jendela kehidupan orang lain. Di sana kita bisa belajar, ditegur, dinasehati, dan mendapatkan pencerahan. Di sana kita bisa  tertawa, bahagia, bahkan menitikkan air mata. Dengan membaca, sejatinya kita menadah sungai-sungai ilmu, yang dengannya dapat merampas kebodohan dan menggantinya dengan pengetahuan. Jika buku adalah jendela dunia, maka membaca sesungguhnya adalah gerbang menuju kehidupan pengetahuan yang tanpa batas.

Saya beruntung ketika SD saya diajarkan alfabet, karena itu menyadarkan saya bahwa ternyata hidup itu memerintahkan untuk terus membaca, membaca dan membaca. Bahkan ayat Al-Quran yang pertama diturunkan memerintahkan untuk “membaca”. Namun saya heran pada orang-orang yang enggan membaca, mereka bisa membaca, tapi enggan membaca. Ah, mungkin mereka sudah lupa bahwa buku adalah jendela dunia.

 Saya suka membaca apapun. Buku, novel, cerpen dan motivasi adalah santapan saya. Namun seiring berkembangnya teknologi bertambah pula media untuk ilmu pengetahuan dan membaca. Di internet sudah sangat banyak tulisan-tulisan yang beredar. Jadi lebih banyak media yang ditawarkan untuk lebih menggiatkan budaya membaca.

 Dengan membaca, saya bisa tahu bagaimana hati seorang ibu yang membesarkan buah hatinya. Dengan membaca saya jadi tahu bagaimana rasanya sekolah di pedalaman nun disana, yang serba terbatas, namun begitu hidup sikap untuk menuntut ilmu. Dengan membaca, saya juga bisa tahu bagaimana cerita seorang mahasiswa yang berjuang keras untuk bisa terus kuliah. Dengan membaca, saya menemukan warna kehidupan yang baru, yang berharga, yang bisa saya petik hikmahnya. Dengan membaca, saya bahagia.

 Oleh karena itu, membacalah! Karena dengannya sejuta ilmu dapat kita rengkuh. Membaca, gerbang ilmu pengetahuan.

“Segala keranjang dapat penuh dengan diisi. Hanya keranjang ilmu yang kian diisi kian minta ditambah isinya.” Ali bin Abi Thalib

 

* * * * *

 

Way Kanan, 19 Februari 2012

Inu Anwardani

Read More

Menulis Membahagiakan

Menulis Membahagiakan

menulis

Bagi saya, menulis adalah menuangkan tinta kehidupan ke dalam kanvas bahasa yang terangkum dalam kata-kata. Oleh karena itu saya mencintai menulis dan membaca. Ketika saya berkata bahwa tulisan adalah hal terpenting bagi hidup saya, maka itu berarti bahwa saya tidak bisa dipisahkan dengan menulis karena tinta kehidupan saya setiap hari harus selalu tertuang.

Menulis itu membahagiakan. Ya, dengan menulis saya bisa mencurahkan segenap apa yang mengganjal sanubari saya. Dengan menulis saya belajar bagaimana menyelesaikan masalah saya. Dengan menulis saya bisa tenggelam dalam lautan emosi yang tanpa sadar tercipta dengan sendirinya. Dengan menulis saya bisa menangis, tertawa, dan juga merenung. Begitu dahsyat yang saya rasakan ketika saya sedang menulis. Seakan saya telah melewati fase kehidupan yang panjang, dan kembali pada garis start begitu tulisan saya terselesaikan. Dan kejadian itu adalah hal yang ajaib bagi saya. Dan itu juga adalah hal yang sangat membahagiakan.

Menakjubkan rasanya setelah menciptakan sebuah tulisan. Meskipun tulisan itu nantinya tak menarik bagi orang lain atau akan dicemooh oleh orang lain. Namun hal demikian selalu saya tepiskan, apapun karya saya, saya selalu bangga terhadapnya. Tak penting apa pendapat orang tentang tulisan saya. Yang terpenting bagi saya adalah: saya menulis, dan saya bahagia.

 Saya jatuh cinta kepada menulis sejak kelas X SMA. Kala itu saya sangat bermimpi menjadi penulis. Dan bertekad dapat menerbitkan sebuah buku ketika SMA. Oleh karena itu masa-masa SMA adalah masa produktif saya menghasilkan karya-karya. Yah, meski terbilang ecek-ecek, saya tetap bahagia bisa menuangkan tinta kehidupan saya dalam kata-kata.

 “Nikmat kehidupan adalah anugerah terindah dari Allah SWT. Dan dengan menuliskan tentang kehidupan artinya mengabadikan kebesaran-kebesaran Allah.” Itulah kata-kata yang saya patrikan ke dalam diri saya. Dan saya tersadar bahwa ternyata “tulisan itu tidak memiliki usia”. Ia akan kekal selamanya sampai zaman ini binasa. Jika suatu saat nanti saya mati, saya percaya tulisan-tulisan saya akan tetap hidup dan kekal sampai kapanpun. Secara biologis boleh jadi saya telah wafat, namun secara zaman saya tetap hidup bersama tulisan-tulisan yang telah saya ciptakan. Tulisan-tulisan itu akan terus hidup. Bagi seorang penulis, jika kehidupannya telah mati (baca: ia wafat), maka sejatinya ia terus hidup di dunia bersama tulisan-tulisannya. Namun bagi orang yang tidak menulis, jika kehidupannya telah berakhir, maka ia tetap mati bersama kehidupannya yang belum sempat tertuliskan. Jadi, jika kita ingin hidup seribu tahun, maka menulislah!

 

“Orang boleh pandai, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pramoedya Ananta Toer.

 

 

* * * * *

 

Way Kanan, 19 Februari 2012

Inu Anwardani

Read More
shared on wplocker.com